Selasa, 04 Maret 2014

INDUKSI PERSALINAN SECARA FARMAKOLOGIS

INDUKSI PERSALINAN
A.    PROSTAGLANDIN
Prostaglandin bereaksi pada serviks untuk membantu pematangan serviks melalui sejumlah mekanisme yang berbeda. Ia menggantikan substansi ekstraseluler pada serviks, dan PGE2 meningkatkan aktivitas kolagenase pada serviks. Ia menyebabkan peningkatan kadar elastase, glikosaminoglikan, dermatan sulfat, dan asam hialuronat pada serviks. Relaksasi pada otot polos serviks menyebabkan dilatasi. Pada akhirnya, prostaglandin menyebabkan peningkatan kadar kalsium intraseluler, sehingga menyebabkan kontraksi otot miometrium. Risiko yang berhubungan dengan penggunaan prostaglandin meliputi hiperstimulasi uterus dan efek samping maternal seperti mual, muntah, diare, dan demam. Saat ini, kedua analog prostaglandin tersedia untuk tujuan pematangan serviks, yaitu gel dinoprostone (Prepidil) dan dinoprostone inserts (Cervidil). Prepidil mengandung 0,5 mg gel dinoproston, sementara Cervidil mengandung 10 mg dinoprostone dalam bentuk pessarium.
Teknik untuk memasukkan gel dinoprostone (Prepidil)
1.      Seleksi pasien :
a.       Pasien tidak demam
b.      Tidak ada perdarahan aktif pervaginam
c.       Penilaian denyut jantung janin teratur
d.      Pasien memberikan informed consent
e.       Skor Bishop <4
2.      Letakkan gel pada suhu ruangan sebelum dipasang, sesuai dengan instruksi pabrik.
3.      Monitor denyut jantung janin dan aktivitas uterus
15 sampai 30 menit sebelum gel dimasukkan dan dilanjutkan selama 30 sampai 120 menit setelah gel dimasukkan
4.      Masukkan gel ke dalam serviks sesuai dengan arahan berikut :
a.       Jika serviks belum mendatar, gunakan kateter endoserviks 20 mm untuk memasukkan gel ke dalam endoserviks tepat di bawah ostium uteri internum
b.      Jika pendataran serviks 50%, gunakan kateter endoserviks 10 mm
5.      Setelah pemberian gel, pasien harus tetap berbaring selama 30 menit sebelum boleh bergerak
6.      Dapat diulangi setiap 6 jam, sampai 3 dosis dalam 24 jam
7.      Nilai akhir pematangan serviks meliputi kontraksi uterus yang kuat, skor Bishop 8, atau perubahan status ibu atau janin.
8.      Dosis maksimum yang direkomendasikan adalah 1,5 mg dinoprostone (3 dosis) dalam 24 jam
9.      Jangan mulai pemberian oksitosin selama 6 sampai 12 jam setelah pemberian dosis terakhir, untuk memperoleh onset persalinan spontan dan melindungi uterus dari stimulasi yang berlebihan.
Teknik pemasangan dinoprostone pervaginam (Cervidil)
1.      Seleksi pasien
2.      Penggunaan sejumlah kecil lubrikan yang mengandung air, letakkan di forniks posterior dari serviks. Sementara alat tersebut menyerap kelembaban dan
1.      cairan, ia melepaskan dinoprostone dalam kecepatan 0,3 mg per jam selama 12 jam
2.      Monitor denyut jantung janin dan aktivitas uterus secara kontinyu mulai 15 sampai 30 menit sebelum pemberian. Karena hiperstimulasi dapat terjadi sampai sembilan setengah jam setelah pemberian, denyut jantung janin dan aktivitas uterus harus dimonitor sejak pemberian sampai 15 menit setelah dilepaskan.
3.      Setelah insersi, pasien harus tetap berbaring selama 2 jam
4.      Lepaskan insersi dengan mendorong talinya setelah 12 jam, saat fase aktif dimulai, atau jika terjadi hiperstimulasi uterus.
5.      Telaah Cochrane memeriksa 52 penelitian yang didesain dengan baik yang menggunakan prostaglandin untuk pematangan serviks atau induksi persalinan. Dibandingkan dengan plasebo (atau tanpa terapi), penggunaan prostaglandin vagina meningkatkan kecenderungan bahwa persalinan pervaginam dapat terjadi dalam waktu 24 jam. Sebagai tambahan, rasio seksio sesaria dapat dibandingkan pada semua penelitian. Satu-satunya kelemahannya adalah peningkatan rasio hiperstimulasi uterus dan perubahan denyut jantung janin yang menyertainya.
B.     MISOPROSTOL
Misoprostol (Cytotec) merupakan PGE sintetis, analog yang ditemukan aman dan tidak mahal untuk pematangan serviks, meskipun tidak diberi label oleh Food and drug administration di Amerika Serikat untuk tujuan ini. Penggunaan misoprostol tidak direkomendasikan pada pematangan serviks atau induksi persalinan pada wanita yang pernah mengalami persalinan dengan seksio sesaria atau operasi uterus mayor karena kemungkinan terjadinya ruptur uteri. Wanita yang diterapi dengan misoprostol untuk pematangan serviks atau induksi persalinan harus dimonitor denyut jantung janin dan aktivitas uterusnya di rumah sakit sampai penelitian lebih lanjut mampu mengevaluasi dan membuktikan keamanan terapi pada pasien. Uji klinis menunjukkan bahwa dosis optimal dan pemberian interval dosis 25 mcg intravagina setiap empat sampai enam jam. Dosis yang lebih tinggi atau interval dosis yang lebih pendek dihubungkan dengan insidensi efek samping yang lebih tinggi, khususnya sindroma hiperstimulasi, yang didefinisikan sebagai kontraksi yang berakhir lebih dari 90 detik atau lebih dari lima kontraksi dalam 10 menit selama dua periode .10 menit berurutan, dan hipersistole, suatu kontraksi tunggal selama minimal dua menit.
Ruptur uteri pada wanita dengan riwayat seksio sesaria sebelumnya juga mungkin merupakan komplikasi, yang membatasi penggunaannya pada wanita yang tidak memiliki skar uterus. (Evidence level B, studi kohort). Teknik penggunaan misoprostol vagina adalah sebagai berikut :
1.      Masukkan seperempat tablet misoprostol intravagina, tanpa menggunakan gel apapun (gel dapat mencegah tablet melarut)
2.      Pasien harus tetap berbaring selama 30 menit
3.      Monitor denyut jantung janin dan aktivitas uterus secara kontinyu selama minimal 3 jam setelah pemberian misoprostol sebelum pasien boleh bergerak
4.      Apabila dibutuhkan tambahan oksitosin (pitosin), direkomendasikan interval minimal 3 jam setelah dosis misoprostol terakhir
5.      Tidak direkomendasikan pematangan serviks pada pasien-pasien yang memiliki skar uterus (Evidence level A, RCT)
Telaah Cochrane menyimpulkan bahwa penggunaan misoprostol dapat menurunkan insidensi seksio sesaria. Insidensi persalinan pervaginam lebih tinggi dalam 24 jam pemberian misoprostol dan menurunkan kebutuhan oksitosin (pitosin) tambahan. (Evidence level A, tinjauan sistematis RCT). Tinjauan pustaka tambahan menunjukkan bahwa misoprostol merupakan agen yang efektif untuk pematangan serviks. (Evidence level A, telaah sistematis RCT)
Telaah Cochrane menurut grup Pregnancy and Childbirth mengidentifikasikan 26 uji klinis tentang misoprostol untuk pematangan serviks atau induksi persalinan atau keduanya. Studi-studi ini menunjukkan bahwa misoprostol lebih efektif daripada prostaglandin E2 agar terjadi persalinan pervaginam dalam 24 jam dan mengurangi kebutuhan dan jumlah total oksitosin tambahan. Meskipun dalam penelitian ini dinyatakan bahwa misoprostol dihubungkan dengan insidensi hiperstimulasi uterus yang lebih tinggi dan cairan amnion kehijauan (meconium staining), tetapi komplikasi ini biasanya dijumpai dengan dosis misoprostol yang lebih tinggi (>25μg). Tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa paparan misoprostol intrapartum (atau agen pematangan serviks prostaglandin lain) menimbulkan efek samping jangka panjang terhadap janin yang lahir tanpa gawat janin.
ACOG Committee on Obstetric Practice menyatakan bahwa tablet misoprostol intravaginal efektif dalam induksi persalinan pada wanita hamil dengan serviks yang belum matang. Komite ini menekankan bahwa hal-hal berikut ini sebaiknya dilakukan untuk meminimalkan risiko hiperstimulasi uterus dan ruptur uteri pada pasien-pasien yang menjalani pematangan serviks atau induksi persalinan pada trimester ketiga, yaitu :
1.      Jika misoprostol digunakan untuk pematangan serviks atau induksi persalinan pada trimester ketiga, dipertimbangkan pemberian dosis awal seperempat tablet 100 μg (sekitar 25 μg).
2.      Dosis sebaiknya tidak diberikan lebih sering daripada setiap 3-6 jam.
3.      Oksitosin seharusnya tidak diberikan kurang dari 4 jam setelah dosis misoprostol terakhir.
4.      Misoprostol sebaiknya tidak digunakan pada pasien bekas SC atau bekas operasi uterus mayor.
Penggunaan dosis misoprostol yang lebih tinggi (misalnya 50 μg setiap 6 jam) untuk induksi persalinan mungkin dapat diberikan pada beberapa situasi, meskipun ada laporan bahwa dosis tersebut meningkatkan risiko komplikasi, termasuk hiperstimulasi uterus dan ruptur uteri. Grande multipara juga merupakan faktor risiko relatif untuk terjadinya ruptur uteri.
C.    MIFEPRISTONE
Mifepristone (Mifeprex) adalah agen antiprogesteron. Progesteron menghambat kontraksi uterus, sementara mifepristone melawan aksi ini. Agen ini menyebabkan peningkatan asam hialuronat dan kadar dekorin pada serviks. Dilaporkan Cochrane, ada 7 percobaan yang melibatkan 594 wanita yang menggunakan mifepristone untuk pematangan serviks. Hasilnya menunjukkan bahwa wanita yang diterapi dengan mifepristone cenderung memiliki serviks yang matang dalam 48 sampai 96 jam jika dibandingkan dengan plasebo. Sebagai tambahan, para wanita ini cenderung melahirkan dalam waktu 48-96 jam dan tidak dilakukan seksio sesaria. Namun demikian, hanya sedikit informasi yang tersedia mengenai luaran janin dan efek samping pada ibu; sehingga tidak cukup mendukung bukti keamanan mifepristone dalam pematangan serviks.
D.    RELAKSIN
Hormon relaksin diperkirakan dapat mendukung pematangan serviks. Berdasarkan evaluasi telaah Cochrane mengenai hasil dari 4 penelitian yang melibatkan 267 wanita disimpulkan bahwa kurangnya dukungan dalam penggunaan relaksin saat ini, sehingga masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai agen-agen induksi persalinan.
E.     OKSITOSIN
Oksitosin merupakan agen farmakologi yang lebih disukai untuk menginduksi persalinan apabila serviks telah matang. Konsentrasi oksitosin dalam plasma serupa selama kehamilan dan selama fase laten dan fase aktif persalinan, namun terdapat peningkatan yang bermakna dalam kadar oksitosin plasma selama fase akhir dari kala II persalinan. Konsentrasi oksitosin tertinggi selama persalinan ditemukan dalam darah tali pusat, yang menunjukkan bahwa adanya produksi oksitosin yang bermakna oleh janin selama persalinan. Oksitosin endogen diesekresikan dalam bentuk pulsasi selama persalinan spontan, hal ini tampak dalam pengukuran konsentrasi oksitosin plasma ibu menit per menit. Seiring dengan perkembangan kehamilan, jumlah reseptor oksitosin dalam uterus meningkat (100 kali lipat pada kehamilan 32 minggu dan 300 kali lipat pada saat persalinan). Oksitosin mengaktifkan jalur fosfolipase C-inositol dan meningkatkan kadar kalsium ekstraseluler, menstimulasi kontraksi otot polos miometrium. Banyak studi acak yang terkontrol dengan penggunaan plasebo memfokuskan penggunaan oksitosin dalam induksi persalinan. Ditemukan bahwa regimen oksitosin dosis rendah (fisiologis) dan dosis tinggi (farmakologis) sama-sama efektif dalam menegakkan pola persalinan yang adekuat.
Oksitosin dapat diberikan melalui rute parenteral apa saja. Ia diabsorpsi oleh mukosa bukal dan nasal . Jika diberikan per oral, oksitosin dengan cepat diinaktifkan oleh tripsin. Rute intravena paling sering digunakan untuk menstimulasi uterus hamil karena pengukuran jumlah indikasi yang diberikan lebih tepat dan dapat dilakukan penghentian obat secara relatif cepat apabila terjadi efek samping.
Saat diabsorpsi, oksitosin didistribusikan dalam cairan ekstraseluler dan tidak berikatan dengan protein. Dibutuhkan waktu 20-30 menit untuk mencapai kadar puncak plasma. Interval waktu yang lebih singkat dapat memperpendek induksi persalinan, tetapi lebih cenderung berhubungan dengan hiperstimulasi uterus dan gawat janin. Mekanisme oksitosin adalah dengan meningkatkan konsentrasi kalsium intraseluler. Hal ini dicapai dengan pelepasan deposit kalsium pada retikulum endoplasma dan dengan meningkatkan asupan kalsium ekstraseluler. Aktivitas oksitosin diperantarai oleh reseptor membran spesifik yang berpasangan dengan protein transduser dan efektor yang membawa informasi dalam sel.
Transduser oksitosin adalah guanosil trifosfat (GTP) binding protein atau protein G. Kompleks reseptor oksitosin – protein G menstimulasi fosfolipase C (PLC). Fosfolipase C secara selektif akan menghidrolisa fosfatidil inositol 4,5–bifosfat (PIP 2) untuk membentuk inositol 1,4,5-trifosfat (IP3) dan 1,2-diasil gliserol. IP3 menyebabkan keluarnya kalsium dari retikulum endoplasma yang meningkatkan konsentrasi kalsium sitoplasma. Peningkatan konsentrasi kalsium intraseluler yang disebabkan karena lepasnya kalsium dan retikulum endoplasma tidak adekuat untuk mengaktivasi sepenuhnya mekanisme kontraktil miometrium dan kalsium ekstraseluler yang penting untuk aksi oksitosin yang adekuat. Apanila tidak ada kalsium ekstraseluler, respon sel-sel miometrium terhadap oksitosin menurun. Kompleks oksitosin – protein G membantu keluarnya kalsium dari retikulum endoplasma dengan melakukan perubahan pada kanal kalsium, baik secara langsung maupun melalui efek yang diperantarai IP3, menyebabkan influks kalsium ekstraseluler. Efek oksitosin terhadap masuknya kalsium ekstraseluler ke dalam sel miometrium tidak sensitif terhadap nifedipin.

Oksitosin dapat menstimulasi kontraksi uterus melalui mekanisme yang bebas dari konsentrasi kalsium intraseluler. Ditemukan bahw akonsentrasi Prostaglandin E (PGE) danProstaglandin F (PGF) meningkat selama pemberian oksitosin. Oksitosin juga menstimulasi produksi PGE dan PGF dari desidua manusia. Penemuan ini menunjukkan adanya interaksi positif antara oksitosin dan prostaglandin sebagai tambahan terhadap aksi uterotonika dan mungkin pelepasan prostaglandin oleh oksitosin perlu untuk mengifisienkan kontraksi uterus selama persalinan.

SEKS YANG AMAN DALAM KEHAMILAN

Banyak pertanyaan dari pasangan suami istri yang sedang dalam kehamilan, tentang apakah berhubungan sex selama kehamilan mengganggu kehamilan ?

Fakta bahwa Seks selama kehamilan adalah aman.

Seorang tenaga medis seharusnya menjadi Health Educator, yang harus memahami tentang masalah kesehatan, antara lain pengetahuan akan masa transisi dari masa remaja/dewasa menjadi orang tua. Dalam masa transisi ini seseorang tidak boleh kehilangan kebutuhan akan intimasi dan seksualitas.Selama kehamilan banyak terjadi perubahan fisik dan emosional terhadap keinginan seksual.Hal ini yang menjadi permasalahan, seringkali tenaga kesehatan maupun pasien merasa tidak nyaman dan tabu membicarakan hal tersebut. Namun kenyataannya bila digali ternyata pasien mempunyai banyak pertanyaan tentang seksualitas.

Permasalahan pada tenaga medis adalah:
• Merasa tidak nyaman mendiskusikan masalah seksual
• Tidak merasa bahwa diskusi masalah seksual berhubungan dengan kesehatan ibu hamil dan pasangannnya.

Faktor-faktor fisik yang mempengaruhi dorongan seksual
• Kelelahan
• Morning sickness (mual dan muntah)
• Perut membesar
• Ketegangan pada alat genitalia
• Payudara tegang
• Perdarahan

Faktor-faktor emosional yang mempengaruhi dorongan seksual :
1. Takut keguguran (bayi terluka ??)
2. Takut orgasme
3. Takut infeksi

Tinjauan literatur;
Hart,(1961), melaporkan 219 ibu hamil yang melahirkan normal mendapatkan :
1. Adanya penurunan libido,frekuensi koitus,orgasme dan lain-lain selama hamil dan nifas
2. Dyspareunia lebih dari 50% pada ibu hamil pada trimester 3
3. Frekuensi sex oral/anal/masturbasi tidak berubah
4. Inisiasi sex meningkat sesuai umur kehamilan dibandingkan dengan sebelum hamil
5. Posisi yang paling sering adalah side by –side positions

Ganem (1992) menjelaskan seksualitas pada kehamilan dibagi dalam 4 fase.
FASE I : masa konsepsi – 12 minggu
1. penurunan keinginan ok mual,muntah,lelah.
2. takut akan terjadi abortus
3. boleh melakukan hubungan seks sepanjang tidak ada riwayat perdarahan / komplikasi pada umur kehamilan yang sama sebelumnya

FASE II : pada umur kehamilan 12 – 32 minggu
1. Disebut masa khusus(spesial time) Wanita telah beradaptasi dengan perubahan tubuhnya,dan pria sangat mendambakan segera menjadi orang tua.
2. Wanita mulai menginginkan hubungan sex.
3. Adanya gerakan bayi.
4. Adanya sekresi vagina menghilangkan dyspaurenia.
5. Karena Kehamilan, merubah posisi seks ada wanita orgasme karena hamil.
6. Pria merasakan penurunan libido oleh karena “making love with mother not with women”
7. Masa paling ideal untuk berhubungan seksual.

FASE III : umur kehamilan 32 – 36 minggu.
1. Pada masa ini wanita hamil lebih banyak cemas.
2. Fetus makin besar sehingga ada rasa tidak nyaman dipanggul,nyeri divagina, pubis dan lain-lain yang menurunkan libido.
3. Pada masa ini intimasi tidak harus berhenti, bisa dengan berciuman( kissing),berpelukan ( hugging), mengusap atau memijat.

FASE IV : umur kehamilan > 36 minggu
1. Masa yang sangat sensitif, kelahiran akan segera tiba,wanita akan berkonsentrasi pada proses ini fetus semakin besar dan berat, ibu merasa semakin capek dan takut libido akan menurun.
2. Kongesti pelvikpostcoital pain hilang dalam waktu 48-72 jam,
3. Ada kesulitan posisi, dimana pria merasakan penetrasi yang terbatas.Bisa diatasi dengan merubah posisi : rear entry positions / side by side positions.
4. Coitus mencegah kehamilan lewat waktu, Semen mengandung PG, bisa diikuti dengan masage putting susu.

Apakah hubungan seks dapat mencetuskan persalinan ?
Orgasme dan semen dapat mencetuskan kontraksi terutama pada trimester ke 3
Pada wanita yang mempunyai riwayat Penyakit PPI, hindari hubungan sexual/ orgasme/manipulasi putting susu, atau gunakan kondom

Pertanyaannya adalah Bagaimana Posisi yang baik selama kehamilan ?
Beberapa posisi yang baik dianjurkan untuk kehamilan adalah :
• Women on top (she goes up)
• Side ways (down side)
• Spooning (man behind women, rear entry)
• Rear entry (dog style)
• Edge of the bed

Beberapa variasi yang bisa dicoba :
• Sitting Position
• Hands and knees position
• Side lying, knee pull up position

Hindari posisi Wanita dalam keadaan terlentang oleh karena dapat menyebab Maternal hypotension syndrome.

Women on Top.
Keuntungan :
• Kendali pada wanita
• Rangsang klitoris lebih baik
• Daya penetrasi bisa diatur
Kerugian :
• Kurang nyaman bagi pria – penetrasi tidak maksimal
• Kurang mesra – kontak tubuh kurang

SPOONING (tempel sendok).
Keuntungan :
• Kontak fisik banyak
• Penetrasi baik dan perlahan
• Nyaman bagi yang bermasalah dengan sendi panggul
Kerugian :
• Daya ungkit kurang
• Kurang bebas bergerak

Side by side.
Keuntungan :
• Kontak fisik lebih banyak
• Nyaman atasi masalah panggul
• Penetrasi kurang
Kerugian :
• Daya dorong kurang
• Kurang bebas

Rear Entry (Dog Style ).
Keuntungan :
• Paling banyak disukai
• Rangsang G-Spot paling baik
• Daya penetrasi tinggi
Kerugian :
• Nyeri lutut
• Kurang mesra – tidak berhadapan

Edge of the bed .
Keuntungan :
• Wanita lebih relaks, nyaman
• Hindari rasa lelah
Kerugian :
• Pria lebih aktif – kontrol kurang
• Terbentur sisi tempat tidur – perlu bantal penyangga

Beberapa petunjuk aman untuk berhubungan seksual :
a. Penetrasi penis yang dalam tidak boleh membuat ibu tidak nyaman.
b. Tidak diperbolehkan untuk vaginal douching
c. Pengertian dan empati
d. Hindari bila ada Pecah ketuban,perdarahan,atau kontraksi rahim.
e. Pada HIV gunakankondom
f. Bila gemelli (kehamilan kembar) jangan lakukan pada trimester III.

Sex dan kehamilan beresiko :
Keputusan untuk melakukan hubungan seks pada kehamilan tergantung dari :
1. kehamilan berisiko atau tidak/jenisnya
2. kesehatan ibu dan janin
3. kebutuhan untuk bed rest
4. tipe aktifitas seksual yang biasa /diinginkan

Kehamilan berisiko yang tidak disarankan untuk melakukan hubungan seks :
1. KPD (Ketuban pecah Dini)
2. Riwayat penyakit infeksi
3. Perdarahan selama kehamilan atau ada riwayat perdarahan selama hamil
4. Plasenta previa
5. Infeksi pada kemaluan.

Hubungan Seksual Khusus pada pasangan .
Bagaimana Bila pasangan pada masa pasca persalinan (Postpartum), kapan idealnya hubungan seksual dilakukan : Post partum ibu nifas masih merasakan : Capek,tidak nyaman,lubrikasi vagina kurang,lokia, emosional belum stabil dan lain-lain, oleh karena itu sebaiknya boleh dilakukan : 4- 6 minggu setelah bayi lahir. Semua praktek seksual boleh saja dilakukan asalkan tidak membahayakan kehamilan dan janin nya, Perlu pengertian antar pasangan agar mendapat kenikmatan bersama (mutual pleasuring). Anal intercourse sebaiknya tidak dilakukan .Bila ingin dilakukan sebaiknya gentleness,gunakan sterile lubricant dan sebaiknya tidak ada menderita hemoroid. Menggunakan alat2 tidak direkomendasikan oleh karena risiko infeksi.

Referensi
Jaka dr. Seks dalam kehamilan. Diunduh tgl 27 maret 2011; tersedia di http://www.drjaka.com/2010.

MENENTUKAN USIA KEHAMILAN

Menentukan umur hamil sangat penting untuk memperkirakan persalinan. Umur hamil dapat ditetuukan dengan:


1. Mempergunakan rumus Naegle.
Rumus naegele terutama untuk menentukan hari perkiraan lahir (HPL, EDC= Expected Date of Confinement). Rumus ini terutama berlaku untuk wanita dengan siklus 28 hari sehingga ovulasi terjadi pada hari ke 14. Rumus Naegle memperhitungkan umur kehamilan berlangsung selama 288 hari. Perhitungan kasarnya dapat dipakai dengan menentukan hari pertama haid dan ditambah 288 hari, sehingga perkiraan kelahiran dapat ditetapkan.
Rumus Naegle dapat dihitung hari haid pertama ditambah 7 (tujuh) dan bulannya dikurang 3 (tiga) dan Tahun ditambah 1 (satu).
a. Contohnya, haid hari pertama tanggal 11 april 2000, maka penghitungan perkiraan kelahiran adalah 11 + 7 = 18; 4 -3= 1, dan Tahun 2000+1 = 2001, sehingga dugaan persalinan adalah 18 Januari 2001.

b. Seorang ibu hamil memiliki HPHT 15-9-2005 dan diperiksa pada 27-11-2005. Maka umur kehamilan dan hari perkiraan lahir (HPL) adalah:
15-09-2005 = 2 minggu 1hari
31-10-2005 = 4 minggu 3 hari
27-11-2005 = 3 minggu 6 hari
Jumlah 9 minggu 10 hari
Berarti usia kehamilan : 10 minggu 3 hari
Jadi umur kehamilan saat diperiksa adalah 10 minggu 3 hari atau 10 minggu genap.

Cara menghitungnya:
1 minggu terdiri atas 7 hari.
a. Tanggal 15-09-2005, berarti hari ke-15. Ini sama dengan 2 x 7 hari = 14 hari + 1 hari (2 minggu lebih 1 hari)
b. Bulan Oktober (bulan 10) terdiri atas 31 hari. Ini berarti 4 x 7 hari = 28 hari + 3 hari atau sama dengan 4 minggu lebih 3 hari
c. tanggal 27-11-2005 berarti hari ke-27 sama dengan 3 x 7 hari = 21 hari + 6 hari (3 minggu lebih 6 hari). Sementara HPL dihitung dengan rumus Naegel = Hari + 7, Bulan ¬ 3 = 15 + 7, 9 ¬ 3 jadi HPL = 22-06-2005

Bila mempunyai kalender obstetrik maka usia kehamilan dan HPL dapat dilihat di tabel kalender tersebut.

2. Gerakan pertama fetus.
Dengan memperkirakan terjadinya gerakan pertama fetus pada umur hamil 16 minggu. maka perkiraan umur hamil dapat ditetapkan.

3. Perkiraan tingginya fundus uteri.
a. Mempergunakan tinggi fundus uteri untuk memperkirakan umur hamil terutama tepat pada hamil pertama. Secara tradisional perkiraan tinggi fundus dilakukan dengan palpasi fundus dan membandingkannya dengan beberapa patokan antara lain simfisis pubis, umbilikus, atau prosesus xipoideus. Cara tersebut dilakukan tanpa memperhitungkan ukuran tubuh ibu. Pada kehamilan kedua dan seterusnya perkiraan ini kurang tepat.

Tinggi fundus uteri = Umur kehamilan
1/3 di atas simfisis = 12 minggu
½ simfisis-pusat = 16 minggu
2/3 di atas simfisis = 20 minggu
Setinggi pusat = 22 minggu
1/3 di atas pusat = 28 minggu
½ pusat-prosesus xifoideus = 34 minggu
Setinggi prosesus xifoideus = 36 minggu
Dua jari (4cm) di bawah prosesus xifoideus = 40 minggu

Perbedaan Usia Kehamilan 8 bulan dengan 10 bulan
8 Bulan hamil
Perut lebih kecil
Epigastrium tegang
Pusat datar
Kepala teraba kecil
Kepala belum masuk PAP

10 bulan hamil
Perut besar
Epigastrium lembek, karena kepala janin masuk PAP
Pusat menonjol
Kepala besar.
Kepala telah masuk PAP

Ketidak akuratan metode ini :
1. Wanita bervariasi pada jarak simfisis pubis ke prosesus xifoid, lokasi umbilikus diantara 2 titik (imajiner) ini.
2. Lebar jari pemeriksa bervariasi antara yang gemuk dan yang kurus.

Keuntungan :
1. Digunakan jika tidak ada Caliper atau pita pengukur.
2. Jari cukup akurat untuk menentukan perbedaan yang jelas antara perkiraan umur kehamilan dengan tanggal dan dengan temuan hasil pemeriksaan dan untuk mengindikasi perlunya pemeriksaan lebih lanjut jika ditemukan ketidak sesuaian dan sebab kelainan tersebut.

b. Metode ini menggunakan alat ukur Caliper.
Caliper digunakan dengan meletakkan satu ujung pada tepi atas simfisis pubis dan ujung yang lain pada puncak fundus. Kedua ujung diletakkan pada garis tengah abdominal. Ukuran kemudian dibaca pada skala cm (centimeter) yang terletak
ketika 2 ujung caliper bertemu. Ukuran diperkirakan sama dengan minggu kehamilan setelah sekitar 22-24 minggu .

Keuntungan :
Lebih akurat dibandingkan pita pengukur terutama dalam mengukur TFU setelah 22-24 minggu kehamilan (dibuktikan oleh studi yang dilakukan Engstrom, Mc.Farlin dan Sitller)

Kerugian :
Jarang digunakan karena lebih sulit, lebih mahal, kurang praktis dibawa, lebih susah dibaca, lebih susah digunakan dibandingkan pita pengukur

c. Menggunakan pita pengukur yang mungkin merupakan metode akurat kedua dalam pengukuran TFU setelah 22-24 minggu kehamilan. Titik nol pita pengukur diletakkan pada tepi atas simfisis pubis dan pita pengukur ditarik melewati garis tengah abdomen sampai puncak. Hasil dibaca dalam skala cm, ukuran yang terukur sebaiknya diperkirakan sama dengan jumlah minggu kehamilan setelah 22-24 minggu kehamilan.

Keuntungan :
Lebih murah, mudah dibawa, mudah dibaca hasilnya, mudah
digunakan dan Cukup akurat

Kerugian :
Kurang akurat dibandingkan caliper

d. Menggunakan pita pengukur tapi metode pengukurannya berbeda. Garis nol pita pengukur diletakkan pada tepi atas simfisis pubis di garis abdominal, tangan yang lain diletakkan di dasar fundus, pita pengukur diletakkan diantara jari telunjuk dan jari tengah, pengukuran dilakukan sampai titik dimana jari menjepit pita pengukur. Sehingga pita pengukur mengikuti bentuk abdomen hanya sejauh puncaknya dan kemudian secara relatif lurus ke titik yang ditahan oleh jari-jari pemeriksa, pita tidak melewati slope anterior dari fundus.

Caranya tidak diukur karena tidak melewati slope anterior tapi dihitung secara matematika sebagai berikut ;
a. Sebelum fundus mencapai ketinggian yang sama dengan umbilikus, tambahkan 4 cm pada jumlah cm yang terukur. Jumlah total centimeternya diperkirakan sama dengan jumlah minggu kehamilan
b. Sesudah fundus mencapai ketinggian yang sama dengan umbilikus, tambahkan 6 cm pada jumlah cm yang terukur. Jumlah total centimeternya diperkirakan sama dengan jumlah minggu kehamilan

Keuntungan :Cukup akurat

Kerugian :
Rumit, tidak praktis

4.Ultrasonografi
a. Konfirmasi kehamilan. Embrio dalam kantung kehamilan dapat dilihat pada awal kehamilan 51/2 minggu dan detak jantung janin biasanya terobsevasi jelas dalam usia 7 minggu.
b. Mengetahui usia kehamilan. Untuk mengetahui usia kehamilan dapat dengan mengunakan ukuran tubuh fetus—sehingga dapat memperkirakan kapan tanggal persalinan.

Penentuan umur kehamilan dengan ultrasonografi menggunakan 3 cara:
1. Dengan mengukur diameter kantong kehamilan (GS= Gestational Sac) untuk kehamilan 6-12 minggu.
2. Dengan mengukur jarak kepala bokong (GRI= Grown rump Length) untuk umur kehamilan 7-14 minggu.
3. Dengan mengukur diameter biparietal (BPD) untuk kehamilan lebih dari 12 minggu.

Daftar Pustaka
1. Evelyn C. Pearce. Anatomi Dan Fisiologi. Gramedia. Jakarta; 2002
2. E. Albert Reece and John C. Hobbins. Clinical Obstetrics The Fetus and Mother. Third edition. Blackwell Publishing , Jakarta; 2007
3. F. Garry Cunningham, Obstetri Williams, edisi 21, EGC. Jakarta; 2006
4. IBG Manuaba dkk. Pengantar Kuliah Obstetri. EGC. Jakarta; 2006
5. Salmah, dkk. Asuhan kebidanan antenatal. EGC. Jakarta; 2006
berbagai sumber

Minggu, 16 Februari 2014

Manfaat dan Khasiat Mentimun untuk Kesehatan


Mentimun atau sering kita sebut Timun atau ketimun merupakan tumbuhan yang menghasilkan buah untuk di makan, lalapan, atau perawatan yang baik untuk kulit wajah dan di percaya mampu meradakan tekanan darah tinggi. Mentimun dapat di temukan di berbagai hidangan hampir di seluruh dunia, manfaat mentimun ini karena mengandung air yang cukup sebagai fungsi penyejuk atau penyegar setelah mengkonsumsi makanan, terutama yang pedas.
Mentimun merupakan tanaman semusim yang dapat berkembang biak dengan cara merambat, setelah berbuah mentimun akan mati. Satu tumbuhan dapat menghasilkan 20 buah, namun dalam budidaya jumlah buah sering di batasi, supaya dalam panen kualitas buah mentimun dapat menghasilkan ukuran yang bagus.
Manfaat mentimun sangat baik untuk kesehatan tubuh dan kulit, ini karena mentimun memiliki kandungan air yang tinggi, vitamin A, B, dan C, serta mineral, seperti magnesium, mangan, kalium dan silika. Dengan kandungan tersebut mentimun sering efektif di pakai sebagai masker wajah yaitu untuk mengencangkan kulit, menurnkan tingkat ritensi air dan juga mengurangi pembekakan pada sekitar mata. Akan tetapi bukan hanya itu manfaat mentimun untuk kesehatan. Berikut manfaat mentimun yang berfungsi sebagai khasiat.

Kandungan Manfaat Mentimun Yang Berkhasiat Untuk Kesehatan

1. Dapat Berfungsi Untuk Kesehatan Sendi
Kandungan slica dalam mentimun dapat membantun sendi untuk tetap dalam kondisi yang baik. Hal ini memperkuat jaringan ikat untuk terhindar dari berbagai macam gangguan pada sendi.
2. Dapat Membunuh Cacing Pita
Ketika Anda sedang makan dengan lalap mentimun, sebaiknya Anda jangan membuang bijinya. Hasil studi menunjukan bahwa dalam biji mentimun dapat membunuh cacing pitang yang terdapat pada usus.Serta sebagai obat herbal antiimpalasi yang dapat membantu menyembuhkan pembekakan selaput lendir dan tenggorokan.
3. Dapat Membantu Meredakan Sakit Gigi dan Gusi
Buah mentimun sangat baik untuk kesehatan mulut, terutama gigi dan gusi. Jika Anda sedang sakit gigi atau gusi, sebaiknya Anda mengkonsumsi jus mentimun secara rutin.
4. Manfaat Mentimun Untuk Mengobati Diabetes
Kandungan mineral dalam buah mentimun dapat berfungsi sebagai sintetis insulin alami yang bermanfaat untuk tubuh.
5. Sebagai Perawatan GinjalManfaat mentimun
Selain yang terkandung dalam manfaat jeruk nipis, mentimun pun dapat membantu meringankan penyakit kandung kemih atau ginjal. Ini karena kandungan air yang ada dalam mentimun mampu membantu fungsi ginjal, juga menetralisir sehingga dengan mengkonsumsi mentimun, maka Anda akan sering mengeluarkan seni.

6. Mampu Menjaga Tekanan Darah
Manfaat kandungan mentimun dari zat potasium, magnesium dan serat mampu membatu Anda untuk mengatur tekanan darah.
7. Manfaat Mentimun Untuk menyuburkan Rambut dan Kesehatan Tulang
Selain bermanfaat untuk kulit, mentimun pun sangat bermanfaat untuk rambut dan kesehatan tulang, ini karena kandungan slica pada mentimun mampu meningkatkan pertumbuhan rambut dan menjaga tulang kita agar tetap sehat dan kuat.
8. Manfaat Mentimun Untuk Mengobati Encok dan Rematik
Kandungan Vitamin A, B1, B6, C dan D serta folat, magnesium dan kalsium, jika di combinasikan dengan wortel, maka  mampu mengatasi penyakit yang bersumber pada sendi, diantaranya encok dan rematik dan mampu menurunkan asam urat.
9. Manfaat Mentimun Untuk Fungsi Pencernaan
Berbagai macam penyakit seperti maag, gagtritis keasaman dan tukak mapu di sembuhkan dengan mengkonsumsi mendimun sebagai obat herbal. Kandungan serat alami pada mentimun mampu melancarkan sistem pencernaan. Bahkan jika Anda mengkonsumsi setiap hari, maka And akan terhindar dari susah BAB.
Itulah Manfaat Mentimun yang bisa Anda manfaatkan di rumah. Selain mudah di dapat, mentimun pun harganya murah, oleh karena itu jadikan buah mentimun sebagai salah satu solusi alami untuk menghilangkan keluhan Anda. Karena kesehatan kita, kita pun yang harus menjaga. Mudah-mudahan bermanfaat.

Sabtu, 08 Februari 2014

CARA MENCEGAH STRESS



Perasaan stress sering kali menjadi musuh dalam selimut. Perasaan ini datang tiba-tiba dan sering sulit dikendalikan. Tapi bila tidak, stress dapat memicu timbulnya berbagai penyakit di kemudian hari. Salah satunya yang banyak diidap orang adalah penyakit jantung, darah tinggi dan stroke. Ibarat sedia payung sebelum hujan, ada baiknya kita menghindari srtess dengan cara berikut.

Energi Positif
Keluarkan energi positif dalam diri Anda dengan selalu berpikir positif dan optimis dalam menghadapi setiap permasalahan. Sadarlah bahwa di setiap permasalahan pasti ada jalan keluar. Selain itu jangan bersikap terlau keras pada diri sendiri. Ketahuilah bahwa setiap rencana yang telah dibuat belum tentu pasti dapat tercapai karena adanya halangan. Bersikaplah lebih fleksibel sehingga Anda pun dapat lebih menikmati hidup.

Menjaga Kesehatan
Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Maka, jagalah kesehatan tubuh Anda dengan berolah raga teratur, tidur yang cukup dan makan makanan bergizi seimbang. Olah tubuh dapat merangsang keluarnya endorphine yaitu zat yang membuat tubuh merasa nyaman, sehingga orang yang berolah raga teratur biasanya tampak sehat dan bahagia. Olah raga teratur ni pun harus didukung dengan pola makan dan istirahat yang baik.

Kendalikan Emosi
Cara termudah untuk mengendalikan emosi adalah dengan minum air putih yang banyak saat di ambang kemarahan. Air putih ini dapat menenangkan emosi Anda dan membantu untuk berpikir lebih jernih. Emosi yang berlebihan yang tidak perlu justru dapat menjadi pemicu stress. Bersikaplah lebih sabar dan berpikir lebih luas agar dapat memahami setiap masalah dengan jernih.

Istirahat Sejenak
Luangkan waktu Anda sedikit untuk beristiharat. Gunakan akhir pekan dengan baik dan maksimal untuk memanjakan diri sendiri dan keluar dari rutinitas sehari-hari. Kumpul bersama keluarga atau teman-teman dapat menjadi cara terbaik untuk memumbuhkan energi positif dan semangat baru.

Terbuka
Jangan pendam masalah Anda sendirian. Seperti ada pepatah yang mengatakan, that’s what friends are for. Dengan berbagi cerita setidaknya beban terasa lebih ringan dan tidak mengendap terus di dalam pikiran.

Tingkatkan Rasa Humor
Secara klinis, humor dapat digunakan untuk mengatasi rasa stress. Sekarang ini di Indonesaia sudah muncul kelompok-kelompok terapi yang melakukan terapi tertawa. Biasanya dilakukan oleh sekelompok orang minimal 5 orang selama 5 sampai 10 menit. Humor perlu dilakukan agar syaraf tidak terlalu tegang dan tubuh mendapat relaksasi walau sejenak.

Sabtu, 06 Juli 2013

PROSEDUR PEMBERIAN OBAT

A. PENGERTIAN OBAT

Obat merupakan sebuah substansi yang diberikan kepada manusia atau binatang sebagai perawatan atau pengobatan bahkan pencegahan terhadap berbagai gangguan yang terjadi di dalam tubuh.

Pada aspek obat ada beberapa istilah yang penting kita ketahui diantaranya: nama generic yang merupakan nama pertama dari pabrik yang sudah mendapatkan lisensi, kemudian ada nama resmi yang memiliki arti nama di bawah lisensi salah satu publikasi yang resmi, nama kimiawi merupakan nama yang berasal dari susunan zat kimianya seperti acetylsalicylic acid atau aspirin, kemudian nama dagang ( trade mark) merupakan nama yang keluar sesuai dengan perusahaan atau pabrik dalam menggunakan symbol seperti ecortin, bufferin, empirin, anlagesik, dan lain-lain.

Obat yang digunakan sebaiknya memenuhi berbagai standar persyaratan obat diantaranya kemurnian, yaitu suatu keadaan yang dimiliki obatkarena unsure keasliannya, tidak ada pencampuran dan potensi yang baik.selain kemurnian, obat juga harus memiliki bioavailibilitas berupa keseimbangan obat, keamanan, dan efektifitas

B. REAKSI OBAT

Sebagai bahan atau benda asing yang masuk kedalam tubuh obat akan bekerja sesuai proses kimiawi, melalui suatu reaksi obat. Reaksi obat dapat dihitung dalam satuan waktu paruh yakni suatu interval waktu yang diperlukan dalam tubuh untuk proses eliminasi sehingga terjadi pengurangan konsentrasi setengah dari kadar puncak obat dalam tubuh.
Adapun faktor yang mempengaruhi reaksi obat yaitu :

1. Absorbs obat
2. Distribusi obat
3. Metabolisme obat
4. Eksresi sisa

Ada 2 efek obat yakni efek teurapeutik dan efek samping.efek terapeutik adalah obat memiliki kesesuaian terhadap efek yang diharapkan sesuai kandungan obatnya seperti paliatif ( berefek untuk mengurangi gejala), kuratif ( memiliki efek pengobatan) dan lain-lain. Sedangkan efek samping adalah dampak yang tidak diharapkan, tidak bias diramal, dan bahkan kemungkinan dapat membahayakan seperti adanya alerg, toksisitas ( keracunan), penyakit iatrogenic, kegagalan dalam pengobatan, dan lain-lain.

C. PERSIAPANN PEMBERIAN OBAT
Ada 6 persyaratan sebelum pemberian obat yaitu dengan prinsip 6 benar :
1. Tepat Obat
Sebelum mempersipakan obat ketempatnya bidan harus memperhatikan kebenaran obat sebanyak 3 kali yaitu ketika memindahkan obat dari tempat penyimpanan obat, saat obat diprogramkan, dan saat mengembalikan ketempat penyimpanan.

2. Tepat Dosis
Untuk menghindari kesalahan pemberian obat, maka penentuan dosis harusdiperhatikan dengan menggunakan alat standar seperti obat cair harus dilengkapi alat tetes, gelas ukur, spuit atau sendok khusus, alat untuk membelah tablet dan lain-lain sehingga perhitungan obat benar untuk diberikan kepaad pasien.

3. Tepat pasien
Obat yang akan diberikan hendaknya benar pada pasien yang diprogramkan dengan cara mengidentifikasi kebenaran obat dengan mencocokkan nama, nomor register, alamat dan program pengobatan pada pasien.

4. Tepat cara pemberian obat

5. Tepat waktu
Pemberian obat harus benar-benar sesuai dengna waktu yang dprogramkan , karena berhubungan dengan kerja obat yang dapat menimbulkan efek terapi dari obat.

6. Tepat pendokumentasian

D. PERHITUNGAN DOSIS OBAT
Dosis pada Bayi dan Anak Balita
Pembagian dosis obat pada bayi dan anak balita dibedakan berdasarkan 2 standar, yaitu berdasarkan luas permukaan tubuh dan berat badan.
1. Young
Da = n/ n +12 X Dd (mg) tidak untuk anak > 12 tahun

2. Dilling
Da = n / 20 + Dd ( mg )

3. Gaubius
Da = 1/12 + Dd ( mg ) ( untuk anak sampai umur 1 tahun )
Da = 1/8 + Dd ( mg ) ( untuk anak 1-2 tahun )
Da = 1/6 + Dd ( mg ) ( untuk anak 2-3 tahun )
Da = 1/ 4 + Dd ( mg ) ( untuk anak 3-4 tahun )
Da = 1/3 + Dd ( mg ) ( untuk anak 4 – 7 tahun )

4. Fried
Da = m/150 x Dd ( mg )
5. Sagel
Da = (13 w + 15)/100 + Dd ( mg ) ( umur 0 – 20 minggu )
Da = ( 8w + 7)/100 + Dd ( mg ) ( umur 20 – 52 minggu )
Da = ( 3w+ 12)/100 + Dd ( mg ) ( umur 1-9 minggu )

6. Clark
Da = w anak/ w dewasa x Dd

7. Berdasarkan area permukaan tubuh :
Dosis anak = area permukaan tubuh anak/ 1,7 mm2 X dosis dewasa normal

E. TEKNIK PEMBERIAN OBAT
1. Pemberian Obat per Oral
Merupakan cara pemberian obat melalui mulut dengan tujuan mencegah, mengobati, mengurangi rasa sakit sesuai dengan efek terapi dari jenis obat.
Alat dan bahan :
1. Daftar buku obat
2. Obat dan tempatnya
3. Air minum ditempatnya

Prosedur kerja :
1. Cuci tangan
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3. Baca obat, dengna berprinsip tepat obat, tepat pasien, tepat dosis, tepat waktu, tepat kerja, dan tepat pendokumentasian.
4. Bantu untuk meminumnya:
a. Apabila memberikan obat berbentuk tablet atau kapsul dari botol, maka tuangkan jumlah yang dibutuhkan ke dalam tutup botol dan pindahkan ke tempat obat. Jangan sentuh obat dengan tangan. Untuk obat berupa kapsul jangan dilepaskan pembungkusnya.
b. Kaji kesulitan menelan, bila ada jadikan tablet dalam bentuk bubuk dan campur dengan minuman
c. Kaji denyut nadi dna tekanan darah sebelum pemberian obat yang membutuhkan pengkajian.
5. Catat perubahan, reaksi terhadap pemberian obat dan evaluasi respon terhadap obat dengan mencatat hasilpemberian obat
6. Cuci tangan


2. Pemberian Obat via Jaringan Intrakutan
Merupakan cara memberikan atau memasukkan obat ke dalam jaringan kulit dengan tujuan untuk melakukan tes terhadap reaksi alergi jenis obat yang akan digunakan. Pemberian obat melalui jaringan intrakutan ini dilakukan dibawah dermis atau epidermis, secara umum dilakukan pada daerah lengan tangan bagian ventral.
Alat dan bahan:
1. Daftar buku obat / catatan, jadual pemberian obat
2. Obat dalam tempatnya
3. Spuit 1 cc / spuit insulin
4. Kapas alcohol dalam tempatnya
5. Cairan pelarut
6. Bak steril dilapisi kasa steril ( tempat spuit )
7. Bengkok
8. Perlak dan alasnya
9. Jarum cadangan

Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan
2. Jelaskan prsedur yang akan dilakukan
3. Bebaskan daerah yang kan disuntik, bila menggunakan bau lengan panjang buka dan keataskan
4. Pasang perlak atau pengalas ibawah bagian yang akan disuntik
5. Ambil obat untuk tes alergi kemudian larutkan / encerkan dengan aquades ( cairan pelarut) kemudian ambil 0.5 cc dan encerkan lagi sampai kurang lebih 1 cc, dan siapkan pada bak instrument atau injeksi.
6. Desinfeksi dengan kapas alcohol pada daerah yang akan dilakukan suntikan
7. Tegangkan dengan tangan kiri atau daerah yang akan disuntik
8. Lakukan penusukan dengan lubang menghadap ke atas dengan sudut 15-20 derajat dengan permukaan kulit.
9. Semprotkan obat hingga terjadi gelembung
10. Tarik spuit dan tidak boleh dilakukan masase
11. Catat reaksi pemberian
12. Cuci tangan dan catat hasil pemberina obat / test obat, tanggal, waktu, dan jnis obat.


3. Pemberian Obat via Jaringan Subkutan
Merupakan cara memberikan obat melalui suntikan dibawah kulit yang dapat dilakukan pada daerah lengan atas sebelah luar atau 1/3 bagian dari bahu, paha sebelah luar, daerah dada, dan daerah sekitar umbilicus ( abdomen ). Pemberian obat melalui subkutan ini biasanya dilakukan dalam program pemberian insulin yang digunakan untuk mengontrol kadar gula darah. Pemberian insulin terdapat 2 tipe larutan : yaitu jernih dan keruh. Larutan jernih dimaksudkan sebagai insulin tipe reaksi cepat ( insulin regular ) dan larutan yang keruh karena adanya penambahan protein sehingga memperlambat absorbs obat atau juga termasuk tipe lambat.
Alat dan bahan :
1. Daftar buku obat / catatan, jadual pemberian obat
2. Obat dalam tempatnya
3. Spuit insulin
4. Kapas alcohol dalam tempatnya
5. Cairan pelarut
6. Bak injeksi
7. Bengkok
8. Perlak dan alasnya

Prosedur Kerja:
Cuci tangan
  1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
  2. Bebaskan daerah yang akan disuntik, bila menggunakan bau lengan panjang buka dan ke ataskan
  3. Pasang perlak atau pengalas di bawah bagian yang akan disuntik
  4. Ambil obat untuk dalam tempatnya sesuai dosis yang akan diberikan setelah itu tempatka pada bak injeksi.
  5. Desinfeksi dengan kapas alcohol pada daerah yang akan dilakukan suntikan
  6. Tegangkan dengan tangan kiri ( daerah yang akan dilakukan suntikan subkutan)
  7. Lakukan penusukan dengan lubang menghadap ke atas dengan sudut 45 derajat dengan permukaan kulit.
  8. Lakukan aspirasi, bila tidak ada darah semprotkan obat perlahan-lahan hingga habis.
  9. Tarik spuit dan tahan dengan kapas alcohol dan spuit yang telah dipakai masukkan kedalam bengkok.
  10. Catat reaksi pemberian dan catat hasil pemberina obat / test obat, tanggal, waktu, dan jenis obat.
  11. Cuci tangan

4. Pemberian Obat Intravena Langsung
Cara Pemberian obat melalui vena secara langsung, diantaranya vena mediana cubiti / cephalika ( lengan ), vena saphenosus ( tungkai ), vena jugularis ( leher ), vena frontalis / temporalis ( kepala ), yang bertujuan agar reaksi cepat dan langsung masuk pada pembuluh darah.
Alat dan bahan :
  1. Daftar buku obat / catatan, jadual pemberian obat
  2. Obat dalam tempatnya
  3. Spuit 1 cc / spuit insulin
  4. Kapas alcohol dalam tempatnya
  5. Cairan pelarut
  6. Bak steril dilapisi kasa steril ( tempat spuit )
  7. Bengkok
  8. Perlak dan alasnya
  9. Karet pembendung
Prosedur Kerja:
  1. Cuci tangan
  2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
  3. Bebaskan daerah yang akan disuntik, bila menggunakan bau lengan panjang buka dan ke ataskan
  4. Ambil obat dalam tempatnya dengna spuit sesuai dengan dosis yang akan disuntikan. Apabila obat berada dalam sediaan bubuk, maka larutkan dengna larutan pelarut ( aquades)
  5. Pasang perlak atau pengalas di bawah bagian vena yang akan disuntik
  6. Kemudian tampatkan obat yang telah diambil pada bak injeksi
  7. Desinfeksi dengan kapas alcohol
  8. Lakukan pengikatan dengan karet pembendung ( tourniquet ) pada bagian atas daerah yang akan dilakukan pemberian obat atau tegangkan dengan tangan / minta bantuan atau membendung diatas vena yang akan dilakukan penyuntikan
  9. Ambil spuit yang berisi obat
  10. Lakukan penusukan dengan lubang menghadap ke atas dengan memasukkan ke pembuluh darah
  11. Lakukan aspirasi bila sudah ada darah lepaskan karet pembendung dan langsung semprotkan obat hingga habis
  12. Setelah selesai ambil spuit dengan menarik dan lakukan penekanan pada daerah penusukan dengan kapas alcohol , dan spuit yang telah digunakan letakkan ke dalam bengkok.
  13. Catat reaksi pemberian, tanggal, waktu, dan dosis pemberian obat
  14. Cuci tangan.

5. Pemberian Obat Intravena Tidak Langsung ( via Wadah )
Merupakan cara memberikan obat dengan menambahkan atau memasukkan obat kedalam wadah cairan intravena yang bertujuan untuk meminimalkan efek samping dan mempertahankan kadar terapetik dalam darah.
Alat dan bahan :
  1. Spuit dan jarum sesuai dengan ukuran
  2. Obat dalam tempatnya
  3. Wadah cairan ( kantong / botol )
  4. Kapas alcohol dalam tempatnya
Prosedur Kerja :
  1. Cuci tangan
  2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
  3. Bebaskan daerah yang akan disuntik, bila menggunakan bau lengan panjang buka dan ke ataskan
  4. Cari tempat penyuntikan obat pada daerah kantong
  5. Lakukan desinfeksi dengan kapas alcohol dan stop aliran.
  6. Lakukan penyuntikan dengan memasukkan jarum spuit hingga menembus bagian tengah dan masukkan obat perlahan-lahan ke dalam kantong / wadah cairan.
  7. Setelah selesai tarik spuit dan campur dengan membalikkan kantong cairan dengan perlahan-lahan dari satu ujung ke ujung lain.
  8. Periksa kecepatan infus.
  9. Cuci tangan
  10. Catat reaksi pemberian, tanggal, waktu, dan dosis pmberian obat
6. Pemberian Obat Intravena Melalui Selang
Alat dan bahan :
  1. Spuit dan jarum sesuai ukuran
  2. Obat dalam tempatnya
  3. Selang intravena
  4. Kapas alcohol
Prosedur Kerja:
  1. Cuci tangan
  2. Jelakan prosedur yang akan dilakukan
  3. Periksa identitas pasien dan ambil obat kemudian masukkan ke dalam spuit.
  4. Cari tempat penyuntikan obat pada daerah selang intravena
  5. Lakukan desinfeksi dengan kapas alcohol dan stop aliran
  6. Lakukan penyuntikan dengan memasukkan jarum spuit hingga menembus bagian tengah dan masukkan obat perlahan-lahan ke dalam selang intravena.
  7. Setelah selesai tarik spuit.
  8. Periksa kecepatan infuse dan observasi reaksi obat
  9. Cuci tangan
  10. Catat obat yang elah diberikan dan dosisnya

7. Pemberian Obat per Intramuskuler
Merupakan cara memasukkan obat ke dalam jaringan otot. Lokasi penyuntikan dapat pada daerah paha ( vastus lateralis ), ventrogluteal ( dengan posisi berbaring ), dorsogluteal ( posisi tengkurap ), atau lengan atas ( deltoid). Tujuannya agar absorbs lebih cepat.
Alat dan bahan :
  1. Daftar buku obat/ catatan, jadual pemberian obat
  2. Obat dalam tempatnya
  3. Spuit sesuai dengan ukuran, jarum sesuai dengan ukuran : dewasa panjang 2,5-3,75 cm, anak panjang : 1,25-2,5cm.
  4. Kapas alcohol dalam tempatnya
  5. Cairan pelarut
  6. Bak injeksi
  7. Bengkok
Prosedur Kerja:
  1. Cuci tangan
  2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
  3. Ambil obat kemudian masukkan kedalam spuit sesuai dengan dosis setelah itu letakkan pada bak injeksi
  4. Periksa tempat yang akan dilakukan penyuntikan ( lihat lokasi penyuntikan ).
  5. Desinfeksi dengan kapas alcohol pada tempat yang akan dilakukan penyuntikan
  6. Lakukan penyuntikan:
a. Pada daerah paha ( vastus lateralis ) dengan cara anjurkan pasien untuk berbaring terlentang dengan lutut sedikit fleksi
b. Pada ventrogluteal dengan cara anjurkan pasien utnuk miring, tengkurap atau terlentang dengan lutut dan pinggul pada sisi yang akan dilakukan penyuntikan dalam keadaan fleksi
c. Pada daerah dorsogluteal dengan cara anjurkan pasien untuk tengkurap dengan lutut di putar kearah dalam atau miring dengan lutut bagian atats pinggul fleksi dan diletakkan di depan tungkai bawah
d. Pada daerah deltoid ( lengan atas ) dengan cara anjurkan pasien untuk duduk atau berbaring mendatar lengan atas fleksi.

7. Lakukan penusukkan dengan posisi jarum tegak lurus
8. Setelah jarum masuk lakukan aspirasi spuit bila tidak ada darah semprotkan obat secara perlahan-lahan hingga habis
9. Setelah selesai ambil spuit dengan menarik spuit dan tekan daerah penyuntikan dengan kapas alcohol, kemudian spuit yang telah digunakan letakkan pada bengkok.
10. Catat reaksi pemberian, jumlah dosis, dan waktu pemberian
11. Cuci tangan


DOSIS OBAT
Dosis suatu obat : adalah dosis pemakaian sekali untuk peroral atau injeksi,Dalam pemberian terapi obat yg rasional, DOSIS OBAT merupakan faktor penting dlm menghasilkan efek yang diinginkan, bahkan dpt membahayakan jika terjadi OVER DOSIS.
Untuk menetapkan dosis yang tepat, perlu diketahui macam-macam dosis : 

DOSIS TERAPI (DT) 
Dosis individual yg tertulis di resep dg tujuan pengobatan 

DOSIS LAZIM (DL) 
Dosis yang tercantum di literatur yg lazimnya dapat menyembuhkan, dosis tersebut sebagai acuan dalam menetapkan dosis terapi per individual
Contoh : Erithromicin 
Sekali minum : 250 mg – 500 mg
Seharinya : 1000 mg – 2000 mg 

DOSIS MAKSIMUM (DM) 
Dosis terbesar yg dpt memberikan efek terapi tanpa menimbulkan bahaya
Contoh : Erithromicin 
Sekali minum : 500 mg
Seharinya : 4000 mg

FAKTOR YG MEMPENGARUHI DOSIS OBAT :
Berat Badan 
Umur 
Luas permukaan tubuh 
Jenis kelamin 
Status patologi 
Toleransi 
Obat yg diberikan bersamaan 
Waktu pemakaian 
Bentuk sediaan dan cara pemakaian 


KONVERSI DALAM SISTEM MATRIKS
1 Gram ( g ) = 1000 miligram ( mg )
1 Liter ( l ) = 1000 mililiter ( ml )
1 Miligram = 1000 mikrogram ( µg )
Mililiter ( ml ) = cc
1 Sendok Teh ( sendok obat, sendok plastik ) = 5 ml
1 Sendok Makan = 15 ml

RUMUS MENGHITUNG DOSIS:

CLARK : w/70 x DM Dewasa
YOUNG : w/(n+20) X DM Dewasa 
DILLING : n/20 X DM Dewasa 
FRIED : m/150 X DM Dewasa 
COWLING : (n+1)/24 X DM Dewasa 
Keterangan :
W = Berat Badan ( Kg )
n = Umur ( tahun )
m = Umur ( bulan)


CARA MENGHITUNG DOSIS
BERDASARKAN BERAT BADAN (CLARK) 
W (Weight = BB (Kg)) / 70 X DM Dewasa 
Berapa dosis erithromicin untuk anak 5 tahun ( BB = 15 Kg ) jika dosis lazimnya 250mg 500mg sekali minum dan 1000mg-2000mg seharinya?
Jaw: Sekali minum = 15 Kg/70 Kg X 250mg-500mg
= 52.5mg -105 mg
Seharinya = 15 Kg/70 Kg X 1000mg-2000mg
=210mg – 420mg

BERDASARKAN UMUR
YOUNG ( n = UMUR KURANG DARI 8 TAHUN ) 
n (umur) / n + 12 X DM Dewasa 
Berapa dosis erithromicin untuk anak 5 tahun ( BB = 15 Kg ) jika dosis lazimnya 250mg-500mg sekali minum dan 1000mg-2000mg seharinya?
Jaw : Sekali minum = 5 / 5 + 12 X 250mg-500mg
=73.5 mg – 147 mg
Seharinya = 5 / 5 + 12 X 1000mg-2000mg
= 294 mg – 588 mg

BERDASARKAN UMUR
DILLING ( N = UMUR DIATAS 8 TAHUN )
n (umur) / 20 X DM Dewasa 
Berapa dosis erithromicin untuk anak 10 tahun ( BB = 15 Kg ) jika dosis lazimnya 250mg-500mg sekali minum dan 1000mg-2000mg seharinya?
Jaw : Sekali minum = 10 / 20 X 250mg-500mg
= 125 mg – 250 mg
Seharinya = 10 / 20 X 1000mg-2000mg
= 500 mg – 1000 mg