Isolasi Sosial
A. Definisi
Isolasi sosial adalah suatu
gangguan hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang
tidak fleksibel yang menimbulkan perilaku maladaptive dan mengganggu fungsi
seseorang dalam hubungan sosial (Depkes RI, 2000).
Isolasi sosial adalah keadaan dimana indifidu atau
kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan
keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu membuat kontak (Carpenito, 2001).
Isolasi sosial menarik
diri merupakan usaha menghindar dari interaksi dan berhubungan dengan orang
lain, individu merasa kehilangan hubungan akrab, tidak mempunyai kesempatan
dalam berfikir, berperasaan, berprestasi, atau selalu dalam kegagalan (Rawlins, 2003).
Isolasi sosial merupakan
keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain dianggap
menyatakan sikap negatif dan mengancam bagi dirinya (Townsend, 2008).
Isolasi sosial adalah suatu keadaan dimana seseorang individu mengalami penurunan
bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya,
pasien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu
membina hubungan yang berarti dan tidak mampu membina hubungan yang berarti
dengan orang lain (Budi Anna Kelliat, 2009 ).
B. Faktor
Predisposisi
1.
Salah satu penyebab
dari menarik diri adalah harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian
individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku
sesuai dengan ideal diri. Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai
perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal
mencapai keinginan.
2.
Gejala Klinis :
a)
Perasaan malu terhadap
diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit (rambut botak
karena terapi)
b)
Rasa bersalah terhadap
diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri)
c)
Gangguan hubungan
sosial (menarik diri)
d)
Percaya diri kurang
(sukar mengambil keputusan)
e)
Mencederai diri (akibat
dari harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien akan
mengakiri kehidupannya.
C. Faktor
Preipitasi
1. Faktor
eksternal :
Stressor sosial budaya :
stress yang ditimbulkan oleh faktor sosial budaya.
2. Faktor
Internal :
Stresor psikologik :
stres terjadi akibat ansietas
berkepanjangan disertai akibat keterbatasan kemampuan
mengatasinya.
D. Tanda dan
Gejala
Menurut Budi Anna Kelia (2009), tanda dan gejala
ditemui seperti:
1.
Apatis, ekspresi
sedih, afek tumpul.
2.
Menghindar dari
orang lain (menyendiri).
3.
Komunikasi
kurang/tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain/perawat.
4.
Tidak ada kontak
mata, klien sering menunduk.
5.
Berdiam diri di
kamar/klien kurang mobilitas.
6.
Menolak
berhubungan dengan orang lain, klien memutuskan percakapan atau pergi jika
diajak bercakap-cakap.
7.
Tidak melakukan
kegiatan sehari-hari.
8.
Posisi janin
saat tidur.
E. Akibat Yang
Ditimbulkan
Klien dengan perilaku menarik diri dapat berakibat
adanya terjadinya resiko perubahan sensori persepsi (halusinasi). Halusinasi
ini merupakan salah satu orientasi realitas yang maladaptive, dimana halusinasi
adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulus yang nyata, artinya
klien menginterprestasikan sesuatu yang nyata tanpa stimulus/rangsangan
eksternal.
Tanda dan gejala ;
1.
Bicara, senyum
dan tertawa sendiri.
2.
Menarik diri dan
menghindar dari orang lain.
3.
Tidak dapat
membedakan tidak nyata dan nyata.
4.
Tidak dapat
memusatkan perhatian.
5.
Curiga,
bermusuhan, merusak (diri sendiri, orang lain dan lingkungannya), takut.
6.
Ekspresi muka
tegang, mudah tersinggung.
F. Penatalaksanaan
1.
Penatalaksanaan Medis
(Dalami, et.all, 2009 : hal.120)
Isolasi
sosial termasuk dalam kelompok penyakit skizofrenia tak tergolongkan
maka jenis
penatalaksanaan medis yang bisa dilakukan adalah :
·
Electro Convulsive
Therapy (ECT)
Electro Convulsive Therapy (ECT)
adalah suatu jenis pengobatan dimana arus listrik digunakan pada otak dengan
menggunakan 2 elektrode yang ditempatkan dibagian temporal kepala (pelipis kiri
dan kanan). Arus tersebut menimbulkan kejang grand mall yang berlangsung 25-30
detik dengan tujuan terapeutik. Respon bangkitan listriknya di otak menyebabkan
terjadinya perubahan faal dan biokimia dalam otak.
Indikasi :
a)
Depresi mayor
1) Klien
depresi berat dengan retardasi mental, waham, tidak ada perhatian lagi terhadap
dunia sekelilingnya, kehilangan berat badan yang berlebihan dan adanya ide
bunuh diri yang menetap.
2) Klien
depresi ringan adanya riwayat responsif atau memberikan respon membaik pada
ECT.
3) Klien
depresi yang tidak ada respon terhadap pengobatan antidepresan atau klien
tidak dapat menerima antidepresan.
b)
Maniak
Klien
maniak yang tidak responsif terhadap cara terapi yang lain atau terapi lain
berbahaya
bagi klien.
c)
Skizofrenia
Terutama
akut, tidak efektif untuk skizofrenia kronik, tetapibermanfaat pada
skizofrenia yang
sudah lama tidak kambuh.
·
Psikoterapi
Membutuhkan
waktu yang relatif cukup lama dan merupakan bagian penting dalam proses
terapeutik, upaya dalam psikoterapi ini meliputi: memberikan rasa aman dan
tenang, menciptakan lingkungan yang terapeutik, bersifat empati, menerima klien
apa adanya, memotivasi klien untuk dapat mengungkapkan perasaannya secara
verbal, bersikap ramah, sopan dan jujur kepada klien.
·
Terapi Okupasi
Adalah
suatu ilmu dan seni untuk mengarahkan partisipasi seseorang dalam melaksanakan
aktivitas atau tugas yang sengaja dipilih dengan maksud untuk memperbaiki,
memperkuat dan meningkatkan harga diri seseorang.
2.
Penatalaksanaan
Keperawatan
Terapi Modalitas Keperawatan yang
dilakukan adalah:
a)
Terapi Aktivitas
Kelompok (TAK)
·
Pengertian : TAK merupakan salah
satu terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang
mempunyai masalah keperawatan yang sama.
·
Tujuan : Membantu anggotanya
berhubungan dengan orang lain serta mengubah perilaku yang destruktif dan maladaptif.
·
Terapi aktivitas
kelompok yang digunakan untuk pasien dengan isolasi sosial adalah TAK
Sosialisasi dimana klien dibantu untuk melakukan sosialisasi dengan individu
yang ada di sekitar klien. Sosialisasi dapat pula dilakukan secara bertahap
dari interpersonal, kelompok dan massa.
b)
Prinsip Perawatan
Isolasi Sosial
·
Psikoterapeutik
1)
Bina hubungan saling
percaya
2)
Buat kontrak dengan
pasien memperkenalkan nama perawat pada waktu interaksi dan tujuan.
3)
Ajak klien
bercakap-cakap dengan memanggil nama klien, untuk menunjukan penghargaan yang
tulus.
4)
Jelaskan pada klien
bahwa informasi tentang pribadi klien tidak akan diberitahukan kepada orang
lain yang tidak berkepentingan.
c)
Berkomunikasi dengan
pasien secara jelas dan terbuka
1)
Bicarakan dengan pasien
tentang sesuatu yang nyata dan pakai istilah yang sederhana.
2)
Bersama klien menilai
manfaat dari pembicaraan dengan perawat.
3)
Gunakan komunikasi
verbal dan non verbal yang sesuai, jelas dan teratur.
4)
Tunjukan sikap empati dan memberi kesempatan kepada
klien untuk mengungkapkan perasaannya.
d)
Kenal dan dukung
kelebihan klien
Tunjukkan dan cari
penyelesaian masalah (koping) yang bisa digunakan klien, cara
menceritakan
perasaannya kepada orang lain yang terdekat/dipercaya.
1)
Bahas dengan klien
tentang koping yang konstruktif
2)
Dukung koping klien
yang konstruktif
3)
Anjurkan klien untuk
menggunakan koping yang konstruktif.
e)
Bantu klien mengurangi
ansietasnya ketika hubungan interpersonal
(1) Batasi
jumlah orang yang berhubungan dengan klien pada awal terapi.
(2) Lakukan
interaksi dengan klien sesering mungkin.
(3) Temani
klien beberapa saat dengan duduk di sampingnya.
(4) Libatkan klien dalam berinteraksi
dengan orang lain secarabertahap.
(5) Libatkan klien dalam aktifitas
kelompok.
f)
Pendidikan kesehatan
1)
Jelaskan kepada klien
cara mengungkapkan perasaan klien selain kata-kata seperti menulis, menangis,
menggambar, berolahraga atau bermain musik.
2)
Bicarakan dengan klien
peristiwa yang menyebabkan menarik diri.
3)
Jelaskan dan anjurkan
pada keluarga untuk tetap mengadakan hubungan dengan klien.
4)
Anjurkan kepada keluarga
agar mengikutsertakan klien dalam kegiatan di masyarakat.
g)
Kegiatan hidup
sehari-hari (ADL)
1)
Bantu klien dalam
melaksanakan kebersihan diri sampai dapat melaksanakan secara mandiri.
2)
Bimbing klien
berpakaian yang rapi.
3)
Batasi kesempatan untuk
tidur, sediakan sarana informasi dan hiburan seperti majalah, surat kabar,
radio dan televisi.
4)
Buat dan rencanakan
jadwal kegiatan bersama-sama klien.
h)
Lingkungan terapeutik
1)
Pindahkan barang-barang
yang dapat membahayakan klien maupun orang lain di lingkungan.
2)
Cegah agar klien tidak
berada di dalam ruang sendiri dalam jangka waktu yang lama.
3)
Beri rangsangan
sensorik seperti suara musik, gambar hiasan di ruangan.
G. Asuhan
Keperawatan
a. Masalah keperawatan:
·
Resiko perubahan
persepsi sensori: halusinasi
·
Isolasi sosial:
menarik diri
·
Gangguan konsep
diri: harga diri rendah
b. Data yang perlu dikaji
Resiko perubahan persepsi sensori : halusinasi
Data Subjektif:
·
Klien mengatakan
mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata.
·
Klien mengatakan
melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata.
·
Klien mengatakan
mencium bau tanpa stimulus.
·
Klien merasa
makan sesuatu.
·
Klien merasa ada
sesuatu pada kulitnya.
·
Klien takut pada
suara/bunyi/gambar yang dilihat dan didengar.
·
Klien ingin
memukul/melempar barang-barang.
Data Objektif:
·
Klien berbicara
dan tertawa sendiri.
·
Klien bersikap
seperti mendengar/melihat sesuatu.
·
Klien berhebti
bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu.
·
Disorientasi
Isolasi Sosial : menarik diri
Data Subyektif:
·
Klien mengatakan
saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh, mengkritik diri
sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri.
Data Obyektif:
·
Klien terlihat
lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan, ingin
mencederai diri/ingin mengakhiri hidup.
Gangguan konsep diri : harga diri rendah
Data subyektif:
·
Klien
mengatakan: saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh, mengkritik
diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri.
Data obyektif:
·
Klien tampak
lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan, ingin
mencederai diri atau ingin mengakhiri hidup.
H. Rencana
Tindakan Keperawatan
Diagnosa I : perubahan sensori persepsi halusinasi
Tujuan
umum :
klien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
Tujuan khusus :
1.
Klien dapat membina hubungan saling percaya dasar untuk kelancaran hubungan
interaksi seanjutnya
Tindakan :
1.1
Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik
dengan cara :
a.
Sapa klien
dengan ramah baik verbal maupun non verbal
b.
Perkenalkan
diri dengan sopan
c.
Tanyakan
nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai
d.
Jelaskan
tujuan pertemuan
e.
Jujur dan
menepati janji
f.
Tunjukkan
sikap empati dan menerima klien apa adanya
g.
Berikan perhatian kepada klien dan perhatian kebutuhan dasar klien
2.
Klien dapat
mengenal halusinasinya
Tindakan :
2.1
Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap
2.2
Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya: bicara dan
tertawa tanpa stimulus memandang ke kiri/ke kanan/ kedepan seolah-olah ada
teman bicara
2.3
Bantu klien
mengenal halusinasinya
a.
Tanyakan
apakah ada suara yang didengar
b.
Apa yang
dikatakan halusinasinya
c.
Katakan
perawat percaya klien mendengar suara itu , namun perawat sendiri tidak
mendengarnya.
d.
Katakan
bahwa klien lain juga
ada yang seperti itu
e.
Katakan bahwa perawat akan membantu klien
2.4
Diskusikan
dengan klien :
a.
Situasi
yang menimbulkan/tidak menimbulkan halusinasi
b.
Waktu dan
frekuensi terjadinya halusinasi (pagi, siang, sore, malam)
2.5
Diskusikan
dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi (marah, takut, sedih,
senang) beri kesempatan klien
mengungkapkan perasaannya
3.
Klien dapat
mengontrol halusinasinya
Tindakan :
3.1
Identifikasi
bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi ( tidur,
marah, menyibukkan diri dll)
3.2
Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien, jika
bermanfaat ber pujian
3.3
Diskusikan cara baru untuk memutus/mengontrol timbulnya
halusinasi:
a.
Katakan “ saya tidak mau dengar”
b.
Menemui
orang lain
c.
Membuat
jadwal kegiatan sehari-hari
d.
Meminta keluarga/teman/perawat untuk menyapa jika klien tampak bicara
sendiri
3.4
Bantu klien memilih
dan melatih cara memutus halusinasinya secara bertahap
3.5
Beri
kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih
3.6
Evaluasi
hasilnya dan beri pujian jika berhasil
3.7
Anjurkan klien mengikuti TAK, orientasi, realita,
stimulasi persepsi
4.
Klien mendapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasinya
Tindakan :
4.1
Anjurkan klien untuk memberitahu keluarga jika mengalami halusinasi
4.2
Diskusikan dengan
keluarga (pada saat berkunjung/pada saat kunjungan rumah):
a.
Gejala
halusinasi yang dialami klien
b.
Cara yang
dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus halusinasi
c.
Cara
merawat anggota keluarga yang halusinasi dirumah, diberi kegiatan, jangan
biarkan sendiri, makan bersama, bepergian bersama
d.
Beri
informasi waktu follow up atau kenapa perlu mendapat bantuan : halusinasi tidak
terkontrol, dan resiko mencederai diri atau orang lain
5.
Klien memanfaatkan obat dengan
baik
Tindakan :
5.1
Diskusikan
dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuensi dan manfaat minum obat
5.2
Anjurkan klien meminta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya
5.3
Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping minum
obat yang dirasakan
5.4
Diskusikan
akibat berhenti obat-obat tanpa konsultasi
5.5
Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar.
Diagnosa II: Isolasi
sosial: menarik diri
Tujuan Umum :
Klien dapat
berinteraksi dengan orang lain sehingga tidak terjadi halusinasi
Tujuan Khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
1.1 Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan
prinsip komunikasi terapeutik dengan cara :
a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun
non verbal
b. Perkenalkan diri dengan sopan
c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan
yang disukai
d. Jelaskan tujuan pertemuan
e. Jujur dan menepati janji
f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien
apa adanya
g. Berikan perhatian kepada klien dan perhatian
kebutuhan dasar klien
2. Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri
Tindakan:
2.1 Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik
diri dan tanda-tandanya.
2.2 Beri kesempatan kepada klien untuk
mengungkapkan perasaan penyebab menarik diri atau mau bergaul
2.3 Diskusikan
bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta penyebab yang
muncul
2.4 Berikan pujian terhadap kemampuan klien
mengungkapkan perasaannya
3. Klien dapat
menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak
berhubungan dengan orang lain.
Tindakan :
3.1 Identifikasi
bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi ( tidur,
marah, menyibukkan diri dll)
3.2 Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan
keuntungan berhubungan dengan orang lain
a. Beri
kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang keuntungan
berhubungan dengan prang lain
b. Diskusikan bersama klien tentang manfaat
berhubungan dengan orang lain
c. Beri
reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang
keuntungan berhubungan dengan orang lain
3.3 Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila
tidak berhubungan dengan orang lain
a. beri kesempatan kepada klien untuk
mengungkapkan perasaan dengan orang lain
b. diskusikan bersama klien tentang kerugian
tidak berhubungan dengan orang lain
c. beri
reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang
kerugian tidak berhubungan dengan orang lain
4. Klien dapat melaksanakan hubungan sosial
Tindakan:
4.1 Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan
orang lain
4.2 Dorong dan bantu kien untuk berhubungan dengan
orang lain melalui tahap :
▪ Klien – Perawat
▪ Klien – Perawat – Perawat lain
▪ Klien – Perawat – Perawat lain – Klien lain
▪ K – Keluarga atau kelompok masyarakat
4.3 Beri reinforcement positif terhadap
keberhasilan yang telah dicapai.
4.4 Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan
4.5 Diskusikan jadwal harian yang dilakukan bersama
klien dalam mengisi waktu
4.6 Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan
4.7 Beri reinforcement positif atas kegiatan klien
dalam kegiatan ruangan
5. Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah
berhubungan dengan orang lain
Tindakan:
5.1 Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya
bila berhubungan dengan orang lain
5.2 Diskusikan dengan klien tentang perasaan
masnfaat berhubungan dengan orang lain.
5.3 Beri reinforcement positif atas kemampuan klien
mengungkapkan perasaan manfaat berhubungan dengan oranglain
6. Klien dapat memberdayakan sistem pendukung
atau keluarga
Tindakan:
6.1 Bina hubungan saling percaya dengan keluarga :
▪ Salam, perkenalan diri
▪ Jelaskan tujuan
▪ Buat kontrak
▪ Eksplorasi perasaan klien
6.2 Diskusikan dengan anggota keluarga tentang :
▪ Perilaku menarik diri
▪ Penyebab perilaku menarik diri
▪ Akibat yang terjadi jika perilaku menarik
diri tidak ditanggapi
▪ Cara keluarga menghadapi klien menarik diri
6.3 Dorong anggota keluarga untukmemberikan
dukungan kepada klien untuk berkomunikasi dengan orang lain.
6.4 Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan
bergantian menjenguk klien minimal satu kali seminggu
6.5 Beri reinforcement positif positif atas hal-hal
yang telah dicapai oleh keluarga
Diagnosa III : harga
diri rendah
Tujuan Umum
:
Klien dapat
berhubungan dengan orang lain secara optimal
Tujuan khusus
:
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
1.1 Bina
hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik dengan
cara :
a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun
non verbal
b. Perkenalkan diri dengan sopan
c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama
panggilan yang disukai
d. Jelaskan tujuan pertemuan
e. Jujur dan menepati janji
f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien
apa adanya
g. Berikan perhatian kepada klien dan perhatian
kebutuhan dasar klien
2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan
aspek positif yang dimiliki
Tindakan:
2.1 Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien
2.2 Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi
penilaian negatif
2.3 Utamakan memberikan pujian yang realistik
3. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan
Tindakan:
3.1. Diskusikan
dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit.
3.2. Diskusikan
kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya.
4. Klien dapat (menetapkan) merencanakan
kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
Tindakan:
4.1. Rencanakan
bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan
▪ Kegiatan mandiri
▪ Kegiatan dengan bantuan sebagian
▪ Kegiatan yang membutuhkan bantuan total
4.2. Tingkatkan
kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien.
4.3. Beri
contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan
5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi
sakit dan kemampuannya
Tindakan:
5.1. Beri
kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan
5.2. Beri
pujian atas keberhasilan klien.
5.3. Diskusikan
kemungkinan pelaksanaan di rumah
6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung
yang ada
Tindakan:
6.1 Beri
pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri
rendah.
6.2 Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien
dirawat.
6.3 Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar