Rabu, 27 Februari 2013

LP Isolasi Sosial


Isolasi Sosial

A.    Definisi
Isolasi sosial adalah suatu gangguan hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan perilaku maladaptive dan mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial (Depkes RI, 2000).
Isolasi sosial adalah keadaan dimana indifidu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu membuat kontak (Carpenito, 2001).
Isolasi sosial menarik diri merupakan usaha menghindar dari interaksi dan berhubungan dengan orang lain, individu merasa kehilangan hubungan akrab, tidak mempunyai kesempatan dalam berfikir, berperasaan, berprestasi, atau selalu dalam kegagalan (Rawlins, 2003).
Isolasi sosial merupakan keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain dianggap menyatakan sikap negatif dan mengancam bagi dirinya (Townsend, 2008).
Isolasi sosial adalah suatu keadaan dimana seseorang individu mengalami penurunan bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya, pasien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain (Budi Anna Kelliat, 2009 ).

B.     Faktor Predisposisi
1.      Salah satu penyebab dari menarik diri adalah harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan.


2.      Gejala Klinis :
a)      Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit (rambut botak karena terapi)
b)      Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri)
c)      Gangguan hubungan sosial (menarik diri)
d)     Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan)
e)      Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien akan mengakiri kehidupannya.

C.    Faktor Preipitasi
1.      Faktor eksternal :
Stressor sosial budaya : stress yang ditimbulkan oleh faktor sosial budaya.
2.      Faktor Internal :
Stresor psikologik : stres terjadi akibat ansietas berkepanjangan disertai akibat keterbatasan kemampuan mengatasinya.

D.    Tanda dan Gejala
Menurut Budi Anna Kelia (2009), tanda dan gejala ditemui seperti:
1.      Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul.
2.      Menghindar dari orang lain (menyendiri).
3.      Komunikasi kurang/tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain/perawat.
4.      Tidak ada kontak mata, klien sering menunduk.
5.      Berdiam diri di kamar/klien kurang mobilitas.
6.      Menolak berhubungan dengan orang lain, klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap.
7.      Tidak melakukan kegiatan sehari-hari.
8.      Posisi janin saat tidur.   
                                             
E.     Akibat Yang Ditimbulkan
Klien dengan perilaku menarik diri dapat berakibat adanya terjadinya resiko perubahan sensori persepsi (halusinasi). Halusinasi ini merupakan salah satu orientasi realitas yang maladaptive, dimana halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulus yang nyata, artinya klien menginterprestasikan sesuatu yang nyata tanpa stimulus/rangsangan eksternal.
Tanda dan gejala ;
1.      Bicara, senyum dan tertawa sendiri.
2.      Menarik diri dan menghindar dari orang lain.
3.      Tidak dapat membedakan tidak nyata dan nyata.
4.      Tidak dapat memusatkan perhatian.
5.      Curiga, bermusuhan, merusak (diri sendiri, orang lain dan lingkungannya), takut.
6.      Ekspresi muka tegang, mudah tersinggung.





F. Penatalaksanaan
1.      Penatalaksanaan Medis (Dalami, et.all, 2009 : hal.120)
Isolasi sosial termasuk dalam kelompok penyakit skizofrenia tak  tergolongkan maka  jenis penatalaksanaan medis yang bisa dilakukan adalah :
·         Electro Convulsive Therapy (ECT)
Electro Convulsive Therapy (ECT) adalah suatu jenis pengobatan dimana arus listrik digunakan pada otak dengan menggunakan 2 elektrode yang ditempatkan dibagian temporal kepala (pelipis kiri dan kanan). Arus tersebut menimbulkan kejang grand mall yang berlangsung 25-30 detik dengan tujuan terapeutik. Respon bangkitan listriknya di otak menyebabkan terjadinya perubahan faal dan biokimia dalam otak.
Indikasi :
a)      Depresi mayor
1)      Klien depresi berat dengan retardasi mental, waham, tidak ada perhatian lagi terhadap dunia sekelilingnya, kehilangan berat badan yang berlebihan dan adanya ide bunuh diri yang menetap.
2)      Klien depresi ringan adanya riwayat responsif atau memberikan respon membaik pada ECT.
3)      Klien depresi yang tidak ada respon terhadap pengobatan antidepresan atau klien tidak dapat menerima antidepresan.
b)      Maniak
     Klien maniak yang tidak responsif terhadap cara terapi yang lain atau terapi lain
     berbahaya bagi klien.
c)      Skizofrenia
      Terutama akut, tidak efektif untuk skizofrenia kronik, tetapibermanfaat pada
      skizofrenia yang sudah lama tidak kambuh.
·         Psikoterapi
Membutuhkan waktu yang relatif cukup lama dan merupakan bagian penting dalam proses terapeutik, upaya dalam psikoterapi ini meliputi: memberikan rasa aman dan tenang, menciptakan lingkungan yang terapeutik, bersifat empati, menerima klien apa adanya, memotivasi klien untuk dapat mengungkapkan perasaannya secara verbal, bersikap ramah, sopan dan jujur kepada klien.
·         Terapi Okupasi
Adalah suatu ilmu dan seni untuk mengarahkan partisipasi seseorang dalam melaksanakan aktivitas atau tugas yang sengaja dipilih dengan maksud untuk memperbaiki, memperkuat dan meningkatkan harga diri seseorang.

2.      Penatalaksanaan Keperawatan
Terapi Modalitas Keperawatan yang dilakukan adalah:
a)      Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)
·         Pengertian : TAK merupakan salah satu terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama.
·         Tujuan : Membantu anggotanya berhubungan dengan orang lain serta mengubah perilaku yang destruktif dan maladaptif.
·         Terapi aktivitas kelompok yang digunakan untuk pasien dengan isolasi sosial adalah TAK Sosialisasi dimana klien dibantu untuk melakukan sosialisasi dengan individu yang ada di sekitar klien. Sosialisasi dapat pula dilakukan secara bertahap dari interpersonal, kelompok dan massa.
b)      Prinsip Perawatan Isolasi Sosial
·         Psikoterapeutik
1)      Bina hubungan saling percaya
2)      Buat kontrak dengan pasien memperkenalkan nama perawat pada waktu interaksi dan tujuan.
3)      Ajak klien bercakap-cakap dengan memanggil nama klien, untuk menunjukan penghargaan yang tulus.
4)      Jelaskan pada klien bahwa informasi tentang pribadi klien tidak akan diberitahukan kepada orang lain yang tidak berkepentingan.
c)      Berkomunikasi dengan pasien secara jelas dan terbuka
1)      Bicarakan dengan pasien tentang sesuatu yang nyata dan pakai istilah yang sederhana.
2)      Bersama klien menilai manfaat dari pembicaraan dengan perawat.
3)      Gunakan komunikasi verbal dan non verbal yang sesuai, jelas dan teratur.
4)      Tunjukan sikap empati dan memberi kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaannya.
d)     Kenal dan dukung kelebihan klien
Tunjukkan dan cari penyelesaian masalah (koping) yang bisa digunakan klien, cara
menceritakan perasaannya kepada orang lain yang terdekat/dipercaya.
1)      Bahas dengan klien tentang koping yang konstruktif
2)      Dukung koping klien yang konstruktif
3)      Anjurkan klien untuk menggunakan koping yang konstruktif.
e)      Bantu klien mengurangi ansietasnya ketika hubungan interpersonal
(1)   Batasi jumlah orang yang berhubungan dengan klien pada awal terapi.
(2)   Lakukan interaksi dengan klien sesering mungkin.
(3)   Temani klien beberapa saat dengan duduk di sampingnya.
(4) Libatkan klien dalam berinteraksi dengan orang lain secarabertahap.
(5) Libatkan klien dalam aktifitas kelompok.
f)       Pendidikan kesehatan
1)      Jelaskan kepada klien cara mengungkapkan perasaan klien selain kata-kata seperti menulis, menangis, menggambar, berolahraga atau bermain musik.
2)      Bicarakan dengan klien peristiwa yang menyebabkan menarik diri.
3)      Jelaskan dan anjurkan pada keluarga untuk tetap mengadakan hubungan dengan klien.
4)      Anjurkan kepada keluarga agar mengikutsertakan klien dalam kegiatan di masyarakat.
g)      Kegiatan hidup sehari-hari (ADL)
1)      Bantu klien dalam melaksanakan kebersihan diri sampai dapat melaksanakan secara mandiri.
2)      Bimbing klien berpakaian yang rapi.
3)      Batasi kesempatan untuk tidur, sediakan sarana informasi dan hiburan seperti majalah, surat kabar, radio dan televisi.
4)      Buat dan rencanakan jadwal kegiatan bersama-sama klien.
h)      Lingkungan terapeutik
1)      Pindahkan barang-barang yang dapat membahayakan klien maupun orang lain di lingkungan.
2)      Cegah agar klien tidak berada di dalam ruang sendiri dalam jangka waktu yang lama.
3)      Beri rangsangan sensorik seperti suara musik, gambar hiasan di ruangan.

  
G.    Asuhan Keperawatan
a.       Masalah keperawatan:
·         Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi
·         Isolasi sosial: menarik diri
·         Gangguan konsep diri: harga diri rendah

b.      Data yang perlu dikaji
Resiko perubahan persepsi sensori : halusinasi
Data Subjektif:
·           Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata.
·         Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata.
·         Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus.
·         Klien merasa makan sesuatu.
·         Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya.
·         Klien takut pada suara/bunyi/gambar yang dilihat dan didengar.
·         Klien ingin memukul/melempar barang-barang.
Data Objektif:
·         Klien berbicara dan tertawa sendiri.
·         Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu.
·         Klien berhebti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu.
·         Disorientasi

Isolasi Sosial : menarik diri
Data Subyektif:
·                    Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri.
Data Obyektif:
·                    Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan, ingin mencederai diri/ingin mengakhiri hidup.

Gangguan konsep diri : harga diri rendah
Data subyektif:
·                    Klien mengatakan: saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri.
Data obyektif:
·                    Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan, ingin mencederai diri atau ingin mengakhiri hidup.

H.       Rencana Tindakan Keperawatan
Diagnosa I             :   perubahan sensori persepsi halusinasi 
      Tujuan umum : klien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
Tujuan khusus :
1.      Klien dapat membina hubungan saling percaya dasar untuk kelancaran hubungan interaksi seanjutnya
Tindakan :
1.1 Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik dengan cara :
a.       Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
b.      Perkenalkan diri dengan sopan
c.       Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai
d.      Jelaskan tujuan pertemuan
e.       Jujur dan menepati janji
f.       Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
g.      Berikan perhatian kepada klien dan perhatian kebutuhan dasar klien
2.      Klien dapat mengenal halusinasinya
Tindakan :
2.1        Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap
2.2        Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya: bicara dan tertawa tanpa stimulus memandang ke kiri/ke kanan/ kedepan seolah-olah ada teman bicara
2.3        Bantu klien mengenal halusinasinya
a.       Tanyakan apakah ada suara yang didengar
b.      Apa yang dikatakan halusinasinya
c.       Katakan perawat percaya klien mendengar suara itu , namun perawat sendiri tidak mendengarnya.
d.      Katakan bahwa klien lain juga ada yang seperti itu
e.       Katakan bahwa perawat akan membantu klien
2.4        Diskusikan dengan klien :
a.      Situasi yang menimbulkan/tidak menimbulkan halusinasi
b.      Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi, siang, sore, malam)
2.5        Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi (marah, takut, sedih, senang) beri kesempatan klien  mengungkapkan perasaannya

3.      Klien dapat mengontrol halusinasinya
Tindakan :
3.1        Identifikasi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi ( tidur, marah, menyibukkan diri dll)
3.2        Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien, jika bermanfaat ber pujian
3.3        Diskusikan cara baru untuk memutus/mengontrol timbulnya halusinasi:
a.      Katakan “ saya tidak mau dengar”
b.      Menemui orang lain
c.      Membuat jadwal kegiatan sehari-hari
d.     Meminta keluarga/teman/perawat untuk menyapa jika klien tampak bicara sendiri
3.4        Bantu  klien memilih  dan melatih cara memutus halusinasinya secara bertahap
3.5        Beri kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih
3.6        Evaluasi hasilnya dan beri pujian jika berhasil
3.7        Anjurkan klien mengikuti TAK, orientasi, realita, stimulasi persepsi

4.      Klien mendapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasinya
Tindakan :
4.1       Anjurkan klien untuk memberitahu keluarga jika mengalami halusinasi
4.2       Diskusikan dengan keluarga (pada saat berkunjung/pada saat kunjungan rumah):
a.       Gejala halusinasi yang dialami klien
b.      Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus halusinasi
c.       Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi dirumah, diberi kegiatan, jangan biarkan sendiri, makan bersama, bepergian bersama
d.      Beri informasi waktu follow up atau kenapa perlu mendapat bantuan : halusinasi tidak terkontrol, dan resiko mencederai diri atau orang lain

5.      Klien memanfaatkan obat dengan baik
Tindakan :
5.1        Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuensi dan manfaat minum obat
5.2        Anjurkan klien meminta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya
5.3        Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping minum obat yang dirasakan
5.4        Diskusikan akibat berhenti obat-obat tanpa konsultasi
5.5        Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar.

Diagnosa II: Isolasi sosial: menarik diri
Tujuan Umum :
Klien dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga tidak terjadi halusinasi
Tujuan Khusus  :
1.   Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
1.1 Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik dengan cara :
a.   Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
b.   Perkenalkan diri dengan sopan
c.   Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai
d.   Jelaskan tujuan pertemuan
e.   Jujur dan menepati janji
f.    Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
g.   Berikan perhatian kepada klien dan perhatian kebutuhan dasar klien

2.   Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri
Tindakan:
2.1 Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya.
2.2 Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab menarik diri atau mau bergaul
2.3 Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta penyebab yang muncul
2.4 Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya

3.   Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
Tindakan :
3.1 Identifikasi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi ( tidur, marah, menyibukkan diri dll)
3.2 Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan dengan orang lain
a.   Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan prang lain
b.   Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain
c.   Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain
3.3 Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain
a.   beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan dengan orang lain
b.   diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain
c.   beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain

4.   Klien dapat melaksanakan hubungan sosial
Tindakan:
4.1 Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain
4.2 Dorong dan bantu kien untuk berhubungan dengan orang lain melalui tahap :
▪     Klien – Perawat
▪     Klien – Perawat – Perawat lain
▪     Klien – Perawat – Perawat lain – Klien lain
▪     K – Keluarga atau kelompok masyarakat
4.3 Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai.
4.4 Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan
4.5 Diskusikan jadwal harian yang dilakukan bersama klien dalam mengisi waktu
4.6 Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan
4.7 Beri reinforcement positif atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan

5.   Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain
Tindakan:
5.1 Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan orang lain
5.2 Diskusikan dengan klien tentang perasaan masnfaat berhubungan dengan orang lain.
5.3 Beri reinforcement positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan manfaat berhubungan dengan oranglain

6.   Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga
Tindakan:
6.1 Bina hubungan saling percaya dengan keluarga :
▪     Salam, perkenalan diri
▪     Jelaskan tujuan
▪     Buat kontrak
▪     Eksplorasi perasaan klien
6.2 Diskusikan dengan anggota keluarga tentang :
▪     Perilaku menarik diri
▪     Penyebab perilaku menarik diri
▪     Akibat yang terjadi jika perilaku menarik diri tidak ditanggapi
▪     Cara keluarga menghadapi klien menarik diri
6.3 Dorong anggota keluarga untukmemberikan dukungan kepada klien untuk berkomunikasi dengan orang lain.
6.4 Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk klien minimal satu kali seminggu
6.5 Beri reinforcement positif positif atas hal-hal yang telah dicapai oleh keluarga

Diagnosa III : harga diri rendah
Tujuan Umum :
Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal
Tujuan khusus :
1.   Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
1.1 Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik dengan cara :
a.   Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
b.   Perkenalkan diri dengan sopan
c.   Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai
d.   Jelaskan tujuan pertemuan
e.   Jujur dan menepati janji
f.    Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
g.   Berikan perhatian kepada klien dan perhatian kebutuhan dasar klien

2.   Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Tindakan:
2.1 Diskusikan kemampuan  dan aspek positif yang dimiliki klien
2.2 Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negatif
2.3 Utamakan memberikan pujian yang realistik

3.   Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan
Tindakan:
3.1. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit.
3.2. Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya.

4.   Klien dapat (menetapkan) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
Tindakan:
4.1. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan
▪     Kegiatan mandiri
▪     Kegiatan dengan bantuan sebagian
▪     Kegiatan yang membutuhkan bantuan total
4.2. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien.
4.3. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan

5.   Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya
Tindakan:
5.1. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah   direncanakan
5.2. Beri pujian atas keberhasilan klien.
5.3. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah

6.   Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Tindakan:
6.1 Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah.
6.2 Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat.
6.3 Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar