Jumat, 09 September 2011

FRAKTUR


DEFINISI
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis serta luasnya. Fraktur dapat disebabkan oleh adanya pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak ataupun kontraksi otot ekstrim. Meskipun patah jaringan sekitarnya juga akan terpengaruh yang dapat mengakibatkan udema jaringan lunak, perdarahan keotot dan sendi, dislokasi sendi, ruptur tendo, kerusakan saraf dan kerusakan pembuluh darah. Organ tubuh dapat mengalami cedera akibat gaya yang disebabkan oleh fraktur atau fragmen tulang.

ETIOLOGI
Fraktur dapat terjadi oleh beberapa faktor yaitu trauma kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian dengan posisi berdiri atau duduk sehingga terjadi fraktur tulang belakang, patologis dari metastase dari tumor, degenerasi karena proses kemunduran fisiologis dari jaringan tulang itu sendiri, spontan karena tarikan otot yang sangat kuat (Corwin, E.J, 2000: 298).
Indikasi dilakukannya operasierasi ORIF yaitu fraktur yang tidak bisa sembuh, fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup, fraktur yang dapat direposisi tapi sulit dipertahankan, fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik dengan operasi (Reksoperasirodjo. S, 1995: 513).

PATOFISIOLOGI
Ø  Proses Terjadinya Fraktur
Fraktur terjadi bila tulang dikenai stres yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak dan bahkan kontraksi otot esktrem. Meskipun tulang patah dan jaringan sekitarnya juga akan terpengaruh, mengakibatkan edema jaringan lunak, perdarahan ke otot dan sendi, dislokasi sendi, ruptur tendo, kerusakan saraf dan kerusakan pembuluh darah (Brunner dan Suddarth, 2001: 2357).
Fraktur sering terjadi pada tulang rawan, jika tulang mengalami fraktur, maka periosteum darah dari korteks marrow dan jaringan sekitarnya rusak, terjadi perdarahan dan kerusakan jaringan di ujung tulang. Terbentuklah hematoma di kanal medulla, jaringan ini merangsang kecenderungan untuk terjadi peradangan yang ditandai dengan vasodilatasi, pengeluaran plasma dan leukosit dan infiltrasi dari sel-sel darah putih yang lain (Corwin, 2000: 299).
Ø  Penyembuhan Fraktur
Fraktur dapat terjadi pada tulang dan jaringan disekitarnya. Jika satu tulang patah, maka jaringan lunak sekitarnya juga rusak, periosteum juga terpisah dari tulang dan terjadi perdarahan yang cukup berat. Bekuan darah terbentuk pada daerah tersebut, akan membentuk jaringan ganulasi dimana sel-sel pembentuk tulang primitif (osteogenik) berdiferensiasi menjadi kondroblas dan osteoblas kemudian kondroblas akan mensekresi fosfat yang merangsang reabsorpsi kalsium sehingga terbentuklah lapisan tebal (kalus) di sekitar lokasi fraktur. Lapisan ini terus menebal dan meluas, bertemu dengan lapisan kalus dari fragmen satunya dan menyatu. Fungsi dari kedua fragmen (penyembuhan fraktur) terus berlanjut dengan terbentuknya trabekula oleh osteoblas, yang melekat pada tulang dan meluas menyebrangi lokasi fraktur. Persatuan tulang provisional ini akan terorganisasi. Kalus tulang akan menjalani transformasi metaplastik untuk menjadi lebih kuat dan lebih terorganisasi. Kalus tulang akan mengalami remodelling dimana osteoblas akan membentuk tulang baru sementara osteoblas akan menyingkirkan bagian yang rusak sehingga akan terbentuk tulang yang menyerupai tulang aslinya (Price, S.A, 1996: 1187).
a.         Rekognisi
Rekognisi menyangkut diagnosis fraktur pada tempat kejadian kecelakaan dan kemudian di rumah sakit.
Riwayat kecelakaan, derajat keparahannya, jenis kekuatan yang berperan dan deskripsi tentang peristiwa yang terjadi oleh penderita dilakukan pemeriksaan spesifikasi untuk mencari adanya fraktur, nyeri pada tulang panjang sangat khas. Krepitus menyatakan perasaan sekan-akan seperti ada dua amplas yang digesekan. Kerusakan jaringan lunak yang nyata dapat juga dijadikan petunjuk kemungkinan adanya fraktur, dan dibutuhkan pemasangan bidai segera dan pemeriksaan lebih lanjut.

b.      Reduksi
Reduksi adalah usaha dan tindakan manipulasi fragmen. Fragmen tulang yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti letak asalnya untuk mengurangi nyeri selama tindakan, penderita dapat diberi narkotika intervena, sedatif atau blok syaraf lokal. Karena segala anestesia baru mencapai efek maksimum sesudah berapa menit, maka cukup ada waktu untuk re-evaluasi sifat-sifat cedera.
c.       Retensi dari Reduksi
Sebagai aturan umum, maka gips yang dipasang untuk mempertahankan reduksi harus melewati sendi di atas raktur. Gips sebaiknya tetap mulus dilaminasi dan sesuai dengan geometri ekstremitas yang patah tersebut.
d.      Rehabilitasi dan Komplikasi Fraktur
Sebagian besar penderita patah tulang akan mengalami proses penyembuhan segera apabila menggunakan teknik penatalaksanaan yang standar, tetapi ada sejumlah penderita yang mengalami komplikasi.

TANDA DAN GEJALA
Fraktur dapat terjadi oleh beberapa faktor yaitu trauma kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian dengan posisi berdiri atau duduk sehingga terjadi fraktur tulang belakang, patologis dari metastase dari tumor, degenerasi karena proses kemunduran fisiologis dari jaringan tulang itu sendiri, spontan karena tarikan otot yang sangat kuat (Corwin, E.J, 2000: 298).

PENGERTIAN TINDAKAN OPERASI
ORIF (Open Reduction Internal Fixation) adalah suatu bentuk pembedahan dengan pemasangan internal fiksasi pada tulang yang mengalami fraktur.

TUJUAN TINDAKAN OPERASI
Tujuan dari operasi ORIF untuk mempertahankan posisi fragmen tulang agar tetap menyatu dan tidak mengalami pergeseran. Internal fiksasi ini berupa Intra Medullary Nail biasanya digunakan untuk fraktur tulang panjang dengan tipe fraktur tranvers

PERSIAPAN PERIOPERATIF DI RUANGAN
Keadaan preoperasi :
·         Klien menjalani program puasa 6 jam sebelum operasi dimulai.Keadaan penderita,kooperatif,tensi 100/80.Nadi 84 x/menit.
Jenis Anestesi :
·         General anestesi: Face mask
·         Premedikasi yang diberikan : Muscle relaxan : Atracurium
·         Induksi Anestesi: Untuk induksi digunakan Propofol 80 mg I.V secara pelan
·         Anestesi inhalasi: O2, Halothane
·         Rumatan : RL digrojog
Posisi anastesi :  Terlentang


PERSIAPAN ATAU PROSEDUR DI RUANG OPERASI
Persiapan alat dan Ruangan
  • Alat tidak steril : Lampu operasi, Cuter unit, Meja operasi, Suction, Hepafik, Gunting
  • Alat Steril : Duk besar 3, Baju operasi 4, Selang suction steril, Selang cuter Steril,side 2/0, palain 2/0,berbagai macam ukuran jarum
  • Set Orif :
-          Koker panjang 2
-          Klem bengkok 6
-          Bengkok panjang 1
-          Pinset cirugis 2
-          Gunting jaringan 1
-          Kom 2
-          Pisturi 1
-          Hand mest
-          Platina 1 set
-          Kassa steril
-          Gunting benang 2
-          Penjepit kasa 1
-          Bor 1
-          Hak Pacul 1
-          Hak Sedang 1
-          Hak Duk 3

Prosedur Operasi :
-          Pasien sudah teranastesi GA
-          Tim bedah melakukan cuci tangan (Scrub)
-          Tim bedah telah memakai baju operasi (Gloving)
-          Lakukan disinfeksi pada area yang akan dilakukan sayatan dengan arah dari dalam keluar, alkohol 2x, betadine 2x
-          Pasang duk pada area yang telah di disinfeksi (Drapping)
-          Hidupkan cuter unit
-          Lakukan sayatan dengan hand mest dengan arah paramedian
-          Robek subkutis dengan menggunakan cuter hingga terlihat tulang yang fraktur
-          Lakukan pengeboran pada tulang
-          Pasang platina
-          Lakukan pembersihan bagian yang kotor dengan cairan NaCl
-          Jahit subkutis dengan plain 2/0
-          Jahit bagian kulit dengan side 2/0
-          Tutup luka dengan kassa betadine, setelah itu diberi hepafik

PERAWATAN PASCA OPERASI
·         Keadaan Post Operasi
Agent anestesi masih dipertahankan dengan tujuan agar tindakan eksubasi dilakukan dalam keadaan sadar sehingga tidak menimbulkan batuk,dan mencegah kejang otot yang dapat menyebabkan gangguan nafas.

·         Ruang pemulihan
Pasien dipindah ke ruang recovery dan diawasi,di ruangan ini hendaknya pasien diobservasi mengenai pernafasan,tekanan darah dan nadi,setelah membaik dapat dikirim ke bangsal. 
·         Program Post operasi
-          Infus RL 20 tpm
-          Antibiotik cefotaxime 2 x 1 gr
-          Antalgin 1 x 1
-          Bila peristaltik (+),boleh minum perlahan-lahan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar