Sabtu, 10 September 2011

SECTIO CAESAREA (SC)


A.    PENGERTIAN OPERASI
Sectio caesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut. (Rustam Mochtar, 1992).
Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram (Sarwono, 1991).
Sesuai pengertian di atas maka penulis mengambil kesimpulan, sectio caesaria adalah suatu pembedahan guna melahirkan janin lewat insisi pada dinding abdomen dan uterus persalinan buatan, sehingga janin dilahirkan melalui perut dan dinding perut dan dinding rahim agar anak lahir dengan keadaan utuh dan sehat.
         Jenis SC
Ø  Seksio sesarea klasik : pembedahan secara sanger
Ø  Seksio sesarea transperitoneal profunda (supra servicalis = lower segmen caesarean section)
Ø  Seksio sesarea yang diikuti dengan histerektomi (caesarean hysterectomy = seksio histerektomy)
Ø  Seksio sesarea vaginal

B.     TUJUAN TINDAKAN OPERASI
1.      Indikasi ibu
·         Panggul sempit absolute
·         Tumor – tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi
·         Stenosis servik
·         Plasenta previa
·         Disproporsi sefalopelvik
·         Ruptur uteri mebakat

2.      Indikasi janin
·         Kelainan letak (letak lintang, bokong, presentasi dahi dan muka)
·         Gawat janin

Indikasi sectio caesaria,
·         disproporsi kepala panggul/CPD//FPD,
·          Disfungsi uterus,
·         Distosia jaringan lunak,
·         Plasenta previa,
·         Janin besar
·         Gawat janin
·         Letak lintang
Kontra indikasi sectio caesaria : pada umumnya sectio caesarian tidak dilakukan pada janin mati, syok, anemi berat, sebelum diatasi, kelainan kongenital berat (monster). Tujuan tindakan dilakukan operasi sesar adalah untuk menyelamatkan ibu dan bayi melalui sayatan dinding abdomen untuk mengeluarkan bayi dan untuk mencegah terjadimya pendarahan yang abnormall pada ibu dan untuk mempermudah mengeluarkan bayi yang presentasinya tidak tepat seperti presbo.

C.    PERSIAPAN PREOPERATIF
Ø Persipan kamar bedah
Pastikan bahwa :
·        Kamar bedah bersih (harus dibersihkan setiap kali selesai suatu tindakan)
·        Kebutuhan bedah dan peralatan tersedia, termasuk oksigen dan obat - obatan
·        Peralatan gawat darurat tersedia dan dalam keadaan siap pakai
·        Baju bedah, kain steril, sarung tangan, instrumen tersedia dalam keadaan steril dan belum kadaluarsa

Ø Persiapan pasien
·        Terangkan prosedur yang akan dilakukan pada pasien. Jika pasien tidak sadar terangkan pada keluarganya
·        Dapatkan persetujuan tindakan medis
·        Bantu dan usahakan pasien dan keluarganya siap secara mental
·        Cek kemungkinan alergi dan riwayat medis yang diperlukan
·        Siapkan contoh darah untuk pemeriksaan hemoglobin dan golongan darah
·        Cuci dan bersihkan lapangan insisi dengan sabun dan air
·        Jangan mencukur pubis jika tidak diperlukan karena dapat meningkatkan resiko infeksi
·        Pantau dan catat tanda vital (tekanan darah, nadi, pernafasan dan suhu)
·        Berikan pramedikasi yang sesuai
·        Berikan antasid untuk mengurangi keasaman lambung
·        Pasang kateter dan monitor pengeluaran urin
·        Pastikan informasi sudah disampaikan pada seluruh tim bedah

Ø Merupakan ijin tertulis yang ditandatangani oleh klien untuk melindungi klien dari pelimpahan wewenang pembedahan dan melindungi ahli bedah dan rumah sakit terhadap pengaduan yang tidak disertai wewenang atau klien tidak menyadari resiko yang menyertai.
Ø Pengkajian
Yang perlu dikaji adalah pengetahuan klien tentang:
·         Tujuan pembedahan, prosedur pra dan post operasi.
·         Latihan-latihan yang diperlukan pada post operasi guna mencegah kom-plikasi.
·         Peristiwa yang akan datang.
Ø  Kesiapan psikologis terhadap pembedahan
·         Puasa 8 jam sebelum operasi untuk mencegah aspirasi pada general anastesi.
·         Persiapan perut yaitu pemberian leknol atau lavement dilakukan pada bedah pada saluran pencernaan atau pelvis peripheral.
·         Persiapan kulit.
      Kecemasan yang berat akan mempengaruhi hipotalamus dan menimbulkan dua me-kanisme yang berbeda. Impuls pertama disponsori oleh sistem saraf simpatis yang akan mempengaruhi medula adrenal dalam memproduksi epinephrin dan nor epinephrin.  Dalam keadaan normal, kedua substansi ini akan memberikan sirkulasi darah yang adekuat sehingga keseimbangan cairan dan elektrolit terjaga, suhu tubuh stabil sehingga energi terpenuhi. Tetapi jika produksinya patologis akan meningkatkan rate dan kontraksi jantung, dilatasi pupil, penurunan motilitas GI tract hingga terjadi glikogenolisis dan gluko-neogenesis di hepar.  Sedangkan mekanisme kedua akan mempengaruhi kelenjar hipofise anterior sehingga merangsang produksi hormon adrenokortikosteroid yaitu aldosteron dan glukokortikoid.  Aldosteron berperan dalam mem-pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, reabsorbsi air dan natrium.  Glukokortikoid menyediakan energi pada kondisi emergensi dan penyembuhan jaringan.
      Kecemasan dapat timbul karena kesiapan psikologis terhadap pembedahan belum terjadi.  Tanda-tanda fisiologis yang penting dalam indikasi cemas adalah:
Œ       Kulit                : pucat, lembab.
Œ       Pupil                : dilatasi.
Œ       Respirasi          : lebih dalam.
Œ       Nadi                : ritme dan kekuatan meningkat.
Œ       Temperatur      : sedikit meningkat.
Œ       GI                    : anorexia, nausea.
Œ       Motorik           : gelisah, gerakan stereotypi, immobilitas (stress berat).
Œ       Perilaku           : rentang perhatian berkurang, kemampuan mengikuti perintah menurun.
Œ       Interaksi: bertanya terus, pengungkapan negatif.
Ø  Kemampuan berkomunikasi
Data mengenai penginderaan dan bahasa menunjukkan kemampuan klien untuk mengerti petunjuk-petunjuk dan kemampuan menerima pengalamam perioperatif.

Ø Oksigenasi
Adanya riwayat gangguan respirasi sangat berpengaruh terhadap kemampuan mengembangkan paru-paru serta potensial atelektasis atau pneumonia pasca bedah.  Riwayat gangguan vaskuler berpengaruh terhadap gangguan suplay O2 pasca bedah.
Ø  Nutrisi
Kelebihan atau kekurangan berat badan dapat dihitung dari rasio tinggi badan dan berat badan.  Defisiensi nutrisi harus dicegah.  Intake diit yang tidak adekuat, mual, anoreksia dan kondisi oral jelek akan mempengaruhi intake nutrisi sebelum operasi dan merupakan faktor yang harus dipertim-bangkan pada periode pasca bedah.
Ø  Eliminasi Mobilitas dan ambulatori merupakan kegiatan penting pasca bedah untuk mencegah komplikasi.  Kurang kegiatan menyebabkan konstipasi pasca bedah, terutama bila memiliki riwayat konstipasi kronis.

Ø  Aktifitas
Kemampuan bergerak dan berjalan pada pasca bedah akan menentukan kegiatan yang harus dilaksanakan untuk memberi kesempatan kepada gerakan yang maksimum.
Ø  Kenyamanan
Kegiatan rutin ataupun prosedur tertentu perlu dijelaskan kepada klien demi mencegah salah pengertian, serta untuk meningkatkan pengetahuan dan me-ngurangi kecemasa

D.  PROSEDUR DI RUANGAN OPERASI
Pengkajian difokuskan pada perubahan hemodinamik, ke-amanan dan keselamatan, pengaturan posisi serta koordinasi kesiapan proses pembe-dahan. Tindakan keperawatan yang harus dilakukan:
a.       Pengelolaan keamanan dan keselamatan fisik.
Jaminan perhitungan kassa, jarum, instrumen harus cocok untuk pemakaian.

Mengatur posisi klien:
·         Posisi fungsional.
·         Membuka daerah operasi.
·         Mempertahankan posisi selama prosedur.
·         Memasang alat ground.
·         Menyiapkan bahan fisik.

b.      Pemantauan fisiologis
·         Mengkalkulasi kebutuhan cairan dan pengaruh akibat kekurangan cairan.
·         Membandingkan data abnormal dari cardio pulmonal.
·         Melaporkan perubahan.
c.       Manajemen keperawatan
·         Menyiapkan keselamatan fisik.
·         Mempertahankan aseptis lingkungan.
·         Mengelola SDM yang efektif
d.      Atur pasien pada posisi yang tepat untuk suatu prosedur tindakan
e.       Cuci tangan selama 3-5 menit
f.       Menyiapkan tempat insisi , usap kulit dengan antiseptik, jaga kesterilan lapangan bedah.
g.      Monitor tanda vital dan jaga hidrasi selama pembedahan
h.      Atasi rasa nyeri dengan dukungan emosional dan penggunaan anestesi.
i.        Berikan antibiotik profilaksis perioperatif
j.        Lakukan insisi

Ø  Membuka perut

·        Sayatan perut dapat secara Pfannenstiel atau mediana dari kulit sampai fasia (jika menggunakan anestesi local, jangan melakukan insisi Pfannenstiel , karena memerlukan waktu dan obat anestesi yang banyak.
·        Setelah fasia disayat 2-3 cm , insisi fasia diperluas dengan gunting
·        Pisahkan muskulus rektus abdominis dengan jari atau gunting
·        Buka peritoneum dekat umbilicus dengan jari
·        Retractor dipasang di atas tulang pubis
·        Pakailah pinset untuk memegang plika vesiko uterina dan buatlah insisi dengan gunting ke lateral
·        Pisahkan vesika urinaria dan dorong ke bawah secara tumpul dengan jari – jari

Ø  Membuka uterus

·        Segmen bawah uterus disayat melintang kurang lebih 1 cm di bawah plika vesiko uterine dengan skalpel  +_  3 cm
·        Insisi diperlebar ke lateral secara tumpul dengan jari tangan
·        Jika segmen bawah uterus masih tebal , insisi diperlebar secara tajam dengan gunting atau pisau
·        Insisi dibuat cukup besar untuk melahirkan kepala dan badan bayi

Ø  Melahirkan bayi dan plasenta

·          Selaput ketuban dipecahkan
·          Untuk melahirkan bayi, masukan 1 tangan kedalam kavum uteri antara uterus dan kepala bayi
·          Kemudian kepala bayi diluksir keluar secara hati – hati agar uterus tidak robek
·          Denga tangan lain, sekaligus menekan hati – hati abdomen ibu di atas uterus untuk membantu kelahiran kepala.
·          Jika kepala bayi telah masuk panggul, mintalah seorang asisten untuk mendorongnya ke atas secara hati – hati
·          Sedot mulut dan hidung bayi , kemudian lahirkan badan dan seluruh tubuh
·          Berikan oksitosin 10 unit dalam 500 ml cairan I.V. 9garam fisiologik/RL_ 60 tetes/menit selama 1 – 2 jam
·          Jepit dan potong tali pusat, selanjutnya bayi diserahkan kepada asisten
·          Berikan antibiotika profilaksis tunggal intraoperatif, setelah tali pusat dipotong :
-          ampisilin 2 g I.V.
-          ATAU sevazolin 1g I.V.
·        Plasenta dan selaput dilahirkan dengan tarikan hati – hati pada tali pusat. Eksplorasi ke dalam kavum uteri untuk memastikan tidak ada bagian plasenta yang tertinggal

Ø  Menutup insisi uterus

·        Jepit tepi luka insisi pada segmen bawah uterus dengan klem Fenster, terutama pasa kedua ujung luka. Perhatikan adanya robekan atau cedera pada vsika urinaria
·        Dilakukan dengan jahitan hemostasis secara jelujur dengan catgut kromik no. 0 atau poliglikolik
·        Jika masih ada perdarahan dari tempat insisi, lakukan jahitan simpul 8. tidak diperlukan jahitan lapis kedua
·        Juga tidak perlu menutup plika vesiko uterina

Ø  Menutup perut

·         Yakinkan tidak ada perdarahan lagi
·         Fasia abdominalis dijahit jelujur dengan catgut kromik no. 0
·         Apabila tidak ada tanda – tanda infeksi , kulit dijahit dengan nilon atau catgut kromik secara subkutikuler.

E.  PERAWATAN PASCA OPERASI
Ø  Perawatan awal
·         Letakan pasien dalam posisi pemulihan
·         Periksa kondisi pasien, cek tanda vital tiap 15 menit selama 1 jam pertama, kemudian tiap 30 menit jam berikutnya. Periksa tingkat kesadaran tiap 15 menit sampai sadar
·         Yakinkan jalan nafas bersih dan cukup ventilasi
·         Transfusu jika diperlukan
·         Jika tanda vital dan hematokrit turun walau diberikan transfusi, segera kembalikan ke kamar bedah kemungkinan terjadi perdarahan pasca bedah

Ø  Fungsi gastrointestinal

·         Jika tindakan tidak berat beri pasien diit cair
·         Jika ada tanda infeksi , tunggu bising usus timbul
·         Jika pasien bisa flatus mulai berikan makanan padat
·         Pemberian infus diteruskan sampai pasien bisa minum dengan baik

Ø  Pembalutan dan perawatan luka

·         Jika pada pembalut luka terjadi perdarahan atau keluar cairan tidak terlalu banyak jangan mengganti pembalut
·         Jika pembalut agak kendor , jangan ganti pembalut, tapi beri plester untuk mengencangkan
·         Ganti pembalut dengan cara steril
·         Luka harus dijaga agar tetap kering dan bersih

Ø  Perawatan fungsi kandung kemih

·         Jika urin jernih, kateter dilepas 8 jam setelah pembedahan atau sesudah semalam
·         Jika urin tidak jernih biarkan kateter terpasang sampai urin jernih
·         Jika terjadi perlukaan pada kandung kemih biarkan kateter terpasang sampai minimum 7 hari atau urin jernih.
·         Jika sudah tidak memakai antibiotika  berikan nirofurantoin 100 mg per oral per hari sampai kateter dilepas

Ø  Jika masih terdapat perdarahan :
·         Lakukan masase uterus
·         Beri oksitosin 10 unit dalam 500 ml cairan I.V. (garam fisiologik atau RL) 60 tetes/menit, ergometrin 0,2 mg I.M. dan prostaglandin


Ø  Jika terdapat tanda infeksi, berikan antibiotika kombinasi sampai pasien bebas demam   selama    48 jam :
·         Aampisili 2 g I.V. setiap 6 jam
·         Ditambah gentamisin 5 mg/kg berat badan I.V. setiap 8 jam
·         Ditambah metronidazol 500 mg I.V. setiap 8 jam

Ø  Analgesik
1.      Pemberian analgesia sesudah bedah sangat penting
2.      Paska bedah penderita dirawat dan diobservasi kemungkinan komplikasi berupa perdarahan dan hematoma pada daerah operasi
3.      Pasca operasi perlu dilakukan drainase untuk mencegah terjadinya hematoma.
4.      Pasien dibaringkan dengan posisi semi fowler (berbaring dengan lutut ditekuk) agar diding abdomen tidak tegang.
5.      Diusahakan agar penderita tidak batuk atau menangis.
6.      Lakukan perawatan luka untuk mencegah terjadiny infeksi
7.      Dalam waktu 1 bulan jangan mengangkut barang yang berat.
8.      Selama waktu 3 bulan tidak boleh melakukan kegiatan yang dapat menaikkan tekanan intra abdomen
9.      pengkajian difokuskan pada kelancaran saluran nafas, karena bila terjadi obstruksi kemungkinan terjadi gangguan ventilasi yang mungkin disebab-kan karena pengaruh obat-obatan, anestetik, narkotik dan karena tekanan diafragma.  Selain itu juga penting untuk mempertahankan sirkulasi dengan mewaspadai terjadinya hipotensi dan aritmia kardiak.  Oleh karena itu perlu memantau TTV setiap 10-15 menit dan kesadaran selama 2 jam dan 4 jam sekali.
10.  Keseimbangan cairan dan elektrolit, kenyamanan fisik berupa nyeri dan kenya-manan psikologis juga perlu dikaji sehingga perlu adanya orientasi dan bimbingan kegi-atan post op seperti ambulasi dan nafas dalam untuk mempercepat hilangnya pengaruh anestesi.
11.  Perawatan pasca operasi, Jadwal pemeriksaan ulang tekanan darah, frekuensi nadi dan nafas. Jadwal pengukuran jumlah produksi urin Berikan infus dengan jelas, singkat dan terinci bila dijumpai adanya penyimpangan
12.  Penatalaksanaan medis, Cairan IV sesuai indikasi. Anestesia; regional atau general Perjanjian dari orang terdekat untuk tujuan sectio caesaria. Tes laboratorium/diagnostik sesuai indikasi. Pemberian oksitosin sesuai indikasi. Tanda vital per protokol ruangan pemulihan, Persiapan kulit pembedahan abdomen, Persetujuan ditandatangani. Pemasangan kateter fole



DAFTAR PUSTAKA
Allen, Carol Vestal, (1998) Memahami Proses Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.
Hamilton, Persis Mary,(1995) Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas, Edisi 6, EGC. Jakarta.
Ibrahim S. Cristina,(1993) Perawatan Kebidanan, Bratara Jakarta.
Manuaba, Ida Bagus Gde, (1998), Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana, EGC. Jakarta.
Martius, Gerhard, (1997), Bedah Kebidanan Martius, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Muchtar, Rustam,(1998), Sinopsis Obstetri, Edisi 2, Jilid 1, EGC. Jakarta.
Sarwono Prawiroharjo,(1999)., Ilmu Kebidanan, Edisi 2 Cetakan II Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.
Tucker, Susan Martin, (1998), Standar Perawatan Pasien, Edisi 5, Volume 4, Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar